10 Rekomendasi Buku Bacaan yang Wajib Dibaca

Artikel

Nesa Azra

Membaca buku bisa menjadi pilihan yang tepat dalam mengisi waktu luang. Tidak hanya sebagai sarana hiburan, tapi juga menambah wawasan.

Membaca adalah kegiatan mental yang melibatkan interpretasi dan pemahaman isi tulisan atau teks. Ini melibatkan penggunaan mata untuk melihat kata-kata dan otak untuk memproses makna dari kata-kata tersebut. Membaca dapat dilakukan dalam berbagai konteks, seperti hiburan, pendidikan, atau penelitian, dan merupakan keterampilan kunci dalam perkembangan pribadi dan akademis.

Mahasiswa baru seringkali dihadapkan pada tantangan baru dalam adaptasi ke lingkungan perkuliahan. Untuk membantu mereka meraih sukses akademis dan pribadi, berikut beberapa rekomendasi buku yang dapat menjadi panduan berharga:

1. Tetralogi Buru – Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan besar Indonesia yang telah melahirkan lebih dari 50 karya.

Di antara banyaknya karya Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Buru merupakan karyanya yang paling terkenal.

Tetralogi Pulau Buru pun terdiri atas empat bagian yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan seri terakhir, Rumah Kaca.

2. Max Havelaar – Multatuli

Karya Tetralogi Buru yang dibuat Pramoedya sebelumnya pun banyak terinspirasi dari novel sejarah terkenal ini.

Novelini menceritakan kisah Havelaar, seorang asisten residen Lebak Banten yang dicopot jabatanya karena terbukti menentang sistem tanam paksa.

Banyak kalangan menganggap Max Havelaar hanyalah sebagai karya satir dan penulisnya, Multatuli dianggap tidak sedang memperjuangkan kebebasan sebuah bangsa.

Buku tersebut dianggap sebagai sebuah upaya untuk mengembalikan kehormatannya sendiri.

3. Orang-Orang Proyek – Ahmad Tohari

Novel sejarah Indonesia ini menceritakan tentang idealisme dari seorang insinyur bernama Kabul, toko pekerja proyek jembatan pada masa Orde Baru.

Akan tetapi, ia menyadari bahwa proyek jembatan tersebut telah menjadi ‘bancakan’ akibat budaya korupsi.

Hal ini pun memunculkan keraguan pada Kabul tentang standar mutu jembatan yang sedang ia kerjakan tersebut

4. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Dalam novel sejarah terbaik ini, Ahmad Tohari mengangkat kisah tentang penari ronggeng di sebuah desa kecil bernama Dukuh Paruk.

Awalnya desa tersebut sangat miskin akibat kemarau panjang.

Namun berkat Ronggeng, aktivitas perekonomian di desa tersebut bisa kembali berjalan.

Akan tetapi, bukan melulu mendapatkan berkah, kegiatan seni tersebut justru menjadi pembuka nasib lain yang tak pernah diduga sebelumnya.

5. Laut Bercerita – Leila S. Chudori

Meski novel ini adalah fiksi, Laut Bercerita menunjukkan kepada pembacanya bahwa negeri ini pernah memasuki masa pemerintahan yang kelam, yaitu pada tahun 1998.

Novel terbagi menjadi dua bagian. Menceritakan sosok Laut Biru, bagian pertama menunjukkan segala kepedihan dan ketakutan sebagai aktivis.

Bagian kedua bercerita mengenai sosok keluarga yang kehilangan saudara.

 

6. Entrok – Okky Madasari

Entrok dengan gamblang memperlihatkan bagaimana sikap negara terhadap rakyat kecil pada masa Orde Baru.

Marni, adalah seorang remaja yang sangat menginginkan entrok atau bra. Pada masa itu, entrok bisa dikatakan sebagai pakaian orang berada. Dengan keinginan tersebut, Marni pun bekerja keras dan menabung.

Dikisahkan pula, Marni dan anaknya menjadi korban orang-orang yang berkuasa, dan melawan kelompok bersenjata.

 

7. Gadis Kretek – Ratih Kumala

Latar waktu yang dibawa pada periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, para pembacanya akan berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia.

Lebas, Karim, dan Tegar, yang merupakan pewaris Kretek Djagad Raja, sedang gelisah karena ayahnya sekarat.

Dalam penantian ajal sang ayah, ia menyebut nama perempuan lain yang bukan istrinya, yaitu Jeng Yah.

Mereka memutuskan untuk menelusuri ke seluruh penjuru Jawa mencari Jeng Yah dan perjalanan tersebut bagaikan napak tilas bisnis serta menguak rahasia keluarga.

 

8. Amba – Laksmi Pamuntjak

Peristiwa G30S PKI sepertinya menjadi sejarah kelam Indonesia yang sulit dilupakan.

Kejadian tersebut pun kerap diabadikan melalui karya sastra, seperti novel.

Nah, novel Amba karya Laksmi Pamuntjak ini pun turut mengisahkan peristiwa nahas tersebut.

Meskipun Amba merupakan novel romansa, ada banyak sekali informasi sejarah yang bisa kamu dapatkan seperti gambaran kehidupan tahanan politik yang diasingkan di Pulau Buru.

 

9. Segala yang Diisap Langit – Pinto Anugrah

 

Novel ini mengisahkan perubahan zaman dari kejayaan para bangsawan Minangkabau yang hidup dari tambang emas, menuju kekuasaan gerakan Kaum Padri di Sumatera Barat.

Pinto Anugrah memadukan data sejarah, data ingatan memori kolektif, data tentang mitos yang lahir dari peristiwa Padri, dengan kajian etnografis yang mendalam.

 

10. Pulang – Leila S. Chudori

Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup tahanan politik G30S tahun 1965, yaitu Dimas Suryo yang kini tinggal di Prancis.

Ia berhasil selamat dari peristiwa pembersihan orang-orang ‘golongan kiri’.

Walaupun terasa berat karena memiliki unsur politik yang kental, karya sastra ini sangatlah mudah untuk dibaca berkat penuturan apik Leila.

share :