Anhar Gonggong: Pancasila Tidak Hanya Milik Soekarno Saja

Berita

Muhtar

Sejarahwan Anhar Gonggong mengungkapkan bahwa Soekarno adalah orang yang pertama kali merumuskan Pancasila, namun dalam proses menjadikannya sebagai dasar negara ada banyak jasa dari para tokoh, terutama dari kalangan Islam.

Hal tersebut disampaikan oleh Anhar dalam acara Literasi Kebangsaan UICI dengan tema Menalar Doktrin Pancasila: Disrupsi Sejarah antara 1 Juni dan 18 Agustus pada Rabu (01/06/2022).

“Jadi adalah salah kalau orang mengatakan bahwasanya seakan-akan Pancasila itu hanya miliknya Soekarno. Benar memang bahwa Soekarno yang merumuskan pertama kali, tapi dalam proses menjadi dasar negara, Islam punya peranan sangat besar,” kata Anhar.

Anhar menyampaikan lahirnya Pancasila berawal dari pidato Soekarno pada 1 Juni 1945. Pidato tersebut kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku pada tahun 1947 dengan judul Lahirnya Pancasila.

Terkait dengan hal ini, Anhar mengungkapkan adanya kekeliruan masyarakat dalam melihat Pancasila dari berbagai perspektif. Misalnya, pandangan yang mengatakan bahwa 1 Juni Pancasila sudah menjadi dasar negara.

“Oleh karena itu dosen saya, Profesor Notonegoro menggunakan istilah ada dua calon dasar negara menurut Profesor Notonegoro, dosen saya di Gadjah Mada. Yaitu tanggal 1 Juni adalah calon dasar negara yang dirumuskan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni. Calon dasar yang kedua adalah yang dirumuskan pada tanggal 22 Juni yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta dan nama ini, istilah ini adalah istilah yang diberikan oleh Yamin sebagai anggota panitia sembilan,” kata Anhar.

“Nah baru kemudian pada tanggal 18 Agustus baru menjadi dasar negara karena kemarinnya, yaitu 17 Agustus 45 kita menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Anhar, pada 17 Agustus 1945 belum ada negara, karena yang menyatakan kemerdekaan adalah bangsa Indonesia. Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 baru ada negara bersamaan dengan dirumuskannya beberapa hal, termasuk diterimanya butir-butir Pancasila menjadi pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

“Lalu ada wilayah negara, ada penentuan Presiden dan Wakil Presiden lalu kemudian ada menteri-menteri dan sebagainya,” jelas Anhar.

Anhar menegaskan bahwa Pancasila adalah konsensus dari dua kekuatan pada saat itu, yaitu nasionalis sekuler dan nasionalis Islam.

Ia mengungkapkan lahirnya Pancasila berawal dari sebuah sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Saat itu Radjiman Wedyodiningrat menanyakan dasar negara setelah merdeka itu apa.

Peserta sidang saat itu tidak ada yang menjawab, kecuali Soekarno. Soekarno menyampaikan pidato tentang Pancasila sebagai dasar negara. Jawaban Soekarno itu mendapat tepuk tangan dari anggota sidang.

Setelah itu Radjiman membentuk panitia delapan. Terdapat delapan orang dengan perbandingan tidak seimbang, yaitu dua orang nasionalis Islami dan enam orang nasionalis sekuler.

Melihat hal itu, Soekarno mengumpulkan 38 anggota BPUPK. Dari 38 anggota itu, ia membentuk panitia kecil berjumlah sembilan orang yang kemudian melahirkan Piagam Jakarta. Hasil Piagam Jakarta ini rencananya akan menjadi naskah proklamasi kemerdekaan dan akan menjadi pembukaan Undang-Undang Dasar.

Anhar melanjutkan jasa umat Islam dalam Piagam Jakarta itu sangat besar. Ia menceritakan setelah Proklamasi Kemerdekaan, sore harinya Mohammad Hatta perwakilan dari perwakilan Kristen Katolik dan Protestan dari Indonesia Timur. Pada intinya, mereka menyampaikan keberatannya akan isi dari dari piagam pada tujuh kata “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Keesokan harinya, Hatta mengumpulkan para pemimpin umat Islam, terdiri dari Kasman Singodimejo dari Muhammadiyah, Ki Bagoes Hadikoesoemo dari Muhammadiyah, Wahid Hasjim dari Nahdlatul Ulama (NU), dan Teuku Muhammad Hasan untuk membahas usulan dari perwakilan Kristen Katolik dan Protestan dari Indonesia timur.

Tidak kurang dari 15 menit yang sangat penting bisa diselesaikan. Tujuh kata yang ditolak itu digantikan dengan tiga kata, “Yang Maha Esa” sehingga menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

“Ini adalah toleransi para pemimpin Islam,” kata Anhar.

Dokumentasi lengkap Literasi Kebangsaan UICI bersama Anhar Gonggong bisa dilihat di sini:

share :