Bincang Konser Coldplay: Antara Musik, Ekonomi, dan Gaya Hidup

Berita

Konser Coldplay

Muhtar

Konser Coldplay di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada 15 November mendatang mendapat sambutan hangat dari pecinta musik di Indonesia.

Lima puluh ribu tiket yang dijual telah habis dipesan hanya dalam hitungan menit. Website resmi penjualan tiket bahkan dikunjungi lebih dari 1,7 juta orang per menit.

Fenomena tersebut menjadi bahasan menarik dalam webinar yang diselenggarakan oleh Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada Selasa (13/06/2023) malam.

Dalam webinar yang bertema “Bincang Bisnis, Konser Coldplay: Musik, Sosial, dan Ekonomi pada Selasa (13/06/2023) itu menghadirkan Kepala Prodi Bisnis Digital Moh. Jawahir dan dosen Bisnis Digital Nida Nurlivi.

Jawahir mengatakan konser Coldplay di GBK akan menghadirkan multiplier effect. Menurutnya, konser Coldplay tidak hanya soal musik, tetapi juga tentang pertumbuhan ekonomi.

“Yang pertama tentu hadirnya Coldplay akan memberikan pemasukan kepada APBD Jakarta. Sesuai dengan peraturan daerah no.3 tahun 2017 setiap event internasional dikenakan pajak 15 persen,” kata Jawahir.

Konser Coldplay ini menurut Jawahir juga sebagai momentum kebangkitan sektor ekonomi kreatif pasca pandemi Covid-19.

Efek domino dari konser Coldplay akan menciptakan ruang-ruang ekonomi yang bisa dirasakan oleh kalangan masyarakat luas di Indonesia.

“Misalnya, seperti kata Sandiaga Uno, reservasi hotel di kawasan  Stadion Gelora Bung Karno (GBK) sudah terisi lebih dari 90 persen pada tanggal 15 November 2023,” lanjutnya.

“Jangan salah, hotel itu juga mempekerjakan banyak orang, kemudian dia memiliki partner yang banyak juga, sehingga banyak sektor yang nantinya akan hidup,” tambahnya.

Jawahir menambahkan, konser Coldplay juga menjadi ajang promosi pariwisata Indonesia kepada komunitas internasional.

Ketika promosi ini berhasil, maka hal ini akan memberikan manfaat, tidak hanya bagi sektor pariwisata itu sendiri, tetapi juga bagi sektor lain, misalnya perhotelan, kuliner, souvenir, dll.

Sektor lain yang akan terdampak dari konser coldplay ini tentunya adalah UMKM. Misalnya bagi mereka yang menyediakan berbagai souvenir konser, seperti kaos, dan souvenir yang lain.

Sementara itu, Nida Nurlivi menyoroti fenomena impulsive buying dalam konser Coldplay ini. Ia menjelaskan impulsive buying merupakan tindakan yang tidak terencana.

Hal itu bisa terjadi ketika konsumen memiliki motivasi yang sangat kuat yang berubah menjadi keinginan untuk membeli barang langsung.

“Impulsive buying sebenarnya tidak memiliki tujuan utama dalam pembeliannya,” ucap Nida.

Ia menuturkan, dari berbagai penelitian, impulsive buying ini dipengaruhi kuat oleh budaya fear of missing out (Fomo) dan hedonisme.

Media sosial, lanjutnya, memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukan gaya hidup hedonis yang menghasilkan perilaku pembelian impulsive.

“Dari media sosial terciptalah motivasi berbelanja, lalu ada orientasi berbelanja, outputnya adalah perilaku pembelian yang impulsive,” jelas Nida.

Ia menjelaskan delapan indikator impulsive buying. Pertama, membeli barang secara spontan. Kedua, just do it atau tidak berpikir panjang. Ketiga, sering membeli tanpa berpikir dulu. Keempat, ketika melihat produk langsung membelinya.

Kelima, terkadang membeli sesuatu dengan terburu-buru. Keenam, membeli sesuatu sesuai dengan perasaan saat itu. Ketujuh dengan hati-hati merencanakan pembelian. Kedelapan terkadang agak ceroboh dalam melakukan pembelian. (*)

share :