Cyber Bullying Paling Banyak Terjadi di Media Sosial, Ini Dampaknya

Berita

Muhtar

Perkembangan teknologi dewasa ini memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi itu adalah maraknya cyber bullying.

Dosen Prodi Digital Neuropsikologi Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Dini Marlina menjelaskan berdasarkan hasil sebuah penelitian cyber bullying paling banyak terjadi di media sosial, jumlahnya mencapai 71 persen.

“Sosial media merupakan platform digital yang paling banyak terjadinya cyber bullying,” kata Dini dalam webinar yang bertema Cyber Bullying: Perspektif Hukum dan Neuropsikologi pada Selasa (04/07/2023).

Kemudian disusul aplikasi chatting 19 persen, game online 5 persen, dan YouTube 1 persen.

Dini menjelaskan berdasarkan hasil riset Center for Digital Society pada tahun 2021, dari 3.077 siswa SMP dan SMA, sebanyak 45,35 persen siswa pernah menjadi korban dan 38,41 persen siswa pernah melakukan cyber bullying.

Selanjutnya, menurut data Unicef pada tahun 2022, Dini mengungkapkan 45 persen dari 2.777 anak di Indonesia mengaku pernah menjadi korban cyber bullying.

Maraknya cyber bullying itu terkait dengan beberapa faktor. Dini menjelaskan faktor pertama adalah pola asuh orang tua.

Ia mengatakan pola asuh orang tua yang keliru dapat mempengaruhi pelaku melakukan cyber bullying ataupun menjadi korban cyber bullying.

“Kenapa? Karena pola asuh orang tua akan membentuk karakter dan perilaku manusia,” jelasnya.

Selain faktor pola asuh orang tua, ada karakteristik internal individu, pesatnya perkembangan teknologi, sekolah, melemahnya control sosial, teman sebaya, perbedaan (ekonomi, agama, gender, dan etnis), dan perilaku suka meniru.

Dampak dari cyber bullying pada psikologi adalah depresi, marah, stres, academic achievement menurun, malu, tidak bisa konsentrasi dalam belajar atau bekerja, takut, cemas, merasa tidak aman, merasa kesepian, kepercayaan diri rendah, menghindari interaksi sosial, dan bunuh diri.

“Korban cyber bullying cenderung mengalami dampak mental yang lebih serius dibandingkan bullying di dunia nyata,” tegas Dini.

Dampak negatif cyber bullying tidak hanya berdampak negatif pada korban, tetapi juga pada pelaku.

Dini menjelaskan dampak cyber bullying pada pelaku adalah perilaku agresi, rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi, cenderung agresif terhadap kekerasan, berwatak keras, mudah marah dan impulsif.

Kemudian toleransi rendah, rasa empati kurang, merasa memiliki kekuasaan terhadap keadaan, cenderung tidak dapat mengembangkan hubungan sosial yang sehat.

“Perilaku cyber bullying cenderung kurang memiliki rasa bersalah terhadap korban, karena para pelaku mayoritas anonim dan dapat menutupi identitas dirinya,” jelasnya. (*)

share :