Forum Internasional di Seoul, Rektor UICI Dorong Solusi Kreatif untuk Perdamaian Semenanjung Korea

Berita

Muhtar

Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Prof. Laode Masihu Kamaluddin menjadi narasumber dalam acara International Forum On One Korea di Seoul, Korea Selatan, pada Senin (02/10/2023).

Forum ini mempertemukan para ahli terkemuka, pembuat kebijakan, jurnalis, dan pemimpin masyarakat sipil dari Korea dan komunitas internasional untuk membangun dukungan yang lebih kuat bagi perdamaian di semenanjung Korea.

Dalam paparanya, Prof. Laode memaparkan tentang pentingnya persatuan dalam keberagaman. Indonesia sebuah negara yang terdiri dari 17.500 pulau dan 700 kelompok etnis, menjadi bukti nyata dari semboyan “persatuan dalam keberagaman.”

Di Indonesia, Prof. Laode menjelaskan tentang makna dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Inti dari semboyan itu adalah saling percaya dan menjaga keharmonisan agar perekonomian tumbuh cukup baik.

“Terlepas dari agama atau etnisitas seseorang, nilai dasar kemanusiaan adalah meningkatkan kemakmuran rakyatnya,” jelas Prof. Laode.

“Itulah nilai dasar Indonesia,” tambahnya.

Berangkat dari semboyan tersebut, Prof. Laode mengatakan dunia saat ini sedang mengalami perubahan sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Generasi muda, khususnya, mengadopsi pendekatan praktis untuk mencapai kemakmuran, melampaui batas negara. Perubahan pikiran ini tidak terbatas pada negara tertentu, bahkan Korea Utara tidak terkecuali dari aspirasi ini.

Ia menekankan bahwa perdamaian, perkembangan ekonomi, dan kerja sama saling menguntungkan mewakili tren yang tak terbendung di dunia saat ini.

Oleh karena itu, misi semua negara, termasuk Korea Selatan dan Korea Utara, harus mampu mengatasi hambatan dan memanfaatkan peluang untuk mengintegrasikan ekonomi mereka, sehingga mempromosikan stabilitas dan kemakmuran di wilayah tersebut.

Meskipun mengakui perbedaan ekonomi antara Korea Selatan dan Korea Utara, Prof. Laode menekankan bahwa tujuan akhir perkembangan ekonomi yang tak terbatas adalah sama untuk semua negara, yaitu kemakmuran bagi semua.

Untuk mencapai aspirasi bersama ini, ia mengajak para pemimpin ekonomi global untuk bersatu, sepakat pada strategi bersama, dan mengambil tindakan.

Pertanyaan kunci yang diajukan oleh Prof. Laode adalah bagaimana untuk menjembatani kesenjangan antara Korea Selatan dan Korea Utara itu? Ia menekankan perlunya solusi yang kreatif dan tingkat kepercayaan yang baru, terutama bagi kalangan generasi baru.

“Salah satu langkah awal yang mungkin adalah integrasi ekonomi. Ini akan melibatkan pergerakan bebas barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan modal antara kedua Korea,” kata Prof. Laode.

Lebih lanjut, ia menyampaikan harapannya bahwa perdamaian dan stabilitas ekonomi di Semenanjung Korea tidak hanya akan bermanfaat bagi wilayah tersebut tetapi juga akan memperluas kemakmuran ke seluruh dunia, terutama dalam kerangka ASEAN plus three yaitu China, Jepang, dan Korea yang bersatu. (*)

share :