Hamdan Zoelva Ingatkan Profesi Hakim; Satu di Surga, Dua di Neraka

Berita

Muhtar

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Dr. Hamdan Zoelva mengingatkan peran mulia hakim dalam memutus sebuah perkara. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara webinar Biar Cerdas! Kupas Tuntas Keputusan MK dalam Perspektif Hukum & Kewarganegaraan pada Minggu (22/10/2023).

Sebagai narasumber tunggal yang diselenggarakan Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Mantan Presidium MN KAHMI ini menyampaikan bahwa profesi hakim sangat rentan. Menukil hadis Rasulullah SAW, ia menekankan dua dari tiga hakim nanti akan masuk neraka.

“Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hakim itu ada tiga macam, (hanya) satu yang masuk surga, sementara dua (macam) hakim lainnya masuk neraka” jelas ketua Syarikat Islam ini.

Ia menyampaikan hal tersebut merespons putusan hakim MK terkait batasan usia calon presiden dan wakil presiden.

Hamdan menjelaskan yang masuk surga adalah seorang hakim yang mengetahui al-haq (kebenaran) dan memutuskan perkara dengan kebenaran itu. Dua yang masuk neraka, menurut Hamdan adalah hakim yang zalim dan hakim yang bodoh.

“Hakim yang zalim itu adalah hakim yang mengetahui kebenaran lalu berbuat zalim (tidak adil) dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Dan seorang lagi, hakim yang memutuskan perkara (memvonis) karena ‘buta’ dan bodoh (hukum), maka ia (juga) masuk neraka.” Ungkap ketua MK periode 2013 – 2015 ini.

Lebih lanjut, Hamdan menjelaskan putusan hakim akan mendapat legitimasi yang kuat apabila memenuhi tiga syarat, yaitu terpenuhi unsur formalitasnya, kedua rasional, dan ketiga memenuhi unsur moralitas.

“Satu formalitas, dua rasionalitas, kemudian moralitas. Ada tiga putusan itu yang memiliki legitimasi yang kuat. Formalitas oke tapi rasionalitas dan moralitasnya kurang itu jadi masalah. sah atau tidak? tetap sah. karena kita menganut hukum formal,” tambahnya.

Ia mencontohkan dalam kasus ini adalah adanya konflik kepentingan antara hakim dengan pihak terkait dalam memutus sebuah perkara. Putusan tersebut mungkin saja sah dalam konteks formalnya, tetapi tidak legitimate. (*)

share :