Ini Konsep Kebahagiaan Menurut Dosen Psikologi UICI

Berita

Muhtar

Konsep Kebahagiaan
Dosen Psikologi UICI Adinsnoor, M.Psi.

Dosen Psikologi Universitasi Insan Cita Indonesia (UICI) Adinsnoor, M.Psi. mengatakan kebahagiaan bukan hanya soal bertambahnya sesuatu pada diri manusia. Kebahagiaan bisa jadi hadir karena berkurangnya sesuatu.

Hal tersebut ia sampaikan dalam webinar dengan tema “Ikigai Way of Islam (Titik Fokus Kebahagiaan)” yang diselenggarakan pada Ahad (04/12/2022).

“Kebahagiaan itu bukan saja tentang penambahan, tetapi bisa juga tentang pengurangan. Bisa jadi penyebab kita tidak bahagia itu adalah bukan karena kita memiliki sesuatu tetapi malahan karena kita memiliki sesuatu,” kata Adin.

“Dulu waktu belum punya mobil, misalnya ya, kita masih bisa happy-happy saja. Tetapi sekarang ketika sudah punya malah jadi gampang stres. Berarti mobil yang kita miliki itu menjadi sumber stres kita. Sebelum punya mobil kita bisa tidur nyenyak, setelah punya mobil kita tidak bisa tidur nyenyak. Kenapa? Karena takut mobilnya hilang,” lanjutnya.

Adin menjelaskan kebahagiaan itu bersumber dari otak. Otak manusia itu mengeluarkan zat-zat neurotransmitter.

“Ketika zat ini muncul, emosi akan muncul juga. Emosi-emosi yang mirip kebahagiaan diwakili oleh zat-zat dopamine, serotonin, oxytocin, dan endorphin,” kata Adin.

Tentang kebahagiaan tersebut, Adin kemudian menjelaskan konsep Ikigai. Ikigai sendiri merupakan istilah yang populer di Jepang. Konsep ini menjadikan sebuah daerah di Jepang, Okinawa, memiliki tingkat harapan hidup yang tinggi.

Menurut Adin, ada tiga hal yang membuat masyarakat Okinawa memiliki harapan hidup yang tinggi. Yang pertama adalah Hara Haci Bu.

“Artinya adalah makan atau mengisi perut maksimal 80 persen. Dalam Islam konsep ini juga ada, di mana Rasulullah mengajarkan kita untuk makan ketika lapar dan selesai sebelum kenyang,” tutur Addin

Tips kedua, lanjut Addin, adalah Moai atau terhubung seumur hidup. Konsep ini dalam Islam sama dengan silaturrahmi.

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahmi,” kata Adin mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Tips selanjutnya adalah resiliency atau kemampuan bertahan. Dalam konsep ini, Adin menjelaskan pentingnya untuk tetap fokus pada hal penting dan tidak terbawa emosi negatif.

Ia mengungkapkan tips agar fokus pada hal-hal penting. Untuk bisa fokus pada hal penting ini, seseorang harus bisa memilah mana yang penting – mendesak, penting – tidak mendesak, tidak penting – mendesak, dan tidak penting – tidak mendesak.

Lebih lanjut, Adin mengatakan bahwa ikigai merupakan titik tengah dari empat hal, yaitu apa yang kita sukai, apa yang kita kuasai, apa yang membuat kita dibayar, dan apa yang dunia butuhkan.

“Jadi menemukan ikigai artinya menemukan titik tengah dari keempat hal tadi. Ketika baru sebagian, enggak ada di tengah-tengahnya, berarti belum mencapai ikigai,” kata Adin.

Namun,menurut Adin, untuk mencapai puncak kebahagiaan, ikigai saja belum cukup. Sebagai umat Islam, hal utama yang harus diperhatikan adalah ikigai yang dilakukan tidak melanggar aturan Islam.

“Kita harus memastikan bahwa ikigai yang kita lakukan itu tidak melanggar syariat Allah SWT. Atau kegiatan tersebut harus ada ridho Allah SWT. Dan itulah yang disebut kesempurnaan kebahagiaan kita,” tutup Adin.

Untuk yang ketinggalan webinar dengan tema Ikigay Way of Islam (Titik Tengah Kebahagiaan) bisa menyimak di video berikut:

share :