Ini Makna Kepahlawanan Menurut Rocky Gerung

Berita

Muhtar

Pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan penghargaan terhadap pahlawan diberikan karena ia melakukan sesuatu di luar batas tugasnya atau beyond the call of duty.

Ia memberi contoh dalam kasus perang. Menurutnya, seseorang disebut pahlawan bukan karena ia ikut berperang, tetapi karena mengambil resiko di luar tugas dia berperang.

“Seseorang disebut pahlawan bukan karena dia berperang tetapi karena dia berperang karena mengambil resiko di luar tugas dia berperang,” ungkap Rocky saat menjadi narasumber Literasi Kebangsaan Jilid IV yang diselenggarakan oleh Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada Sabtu (11/11/2023).

Dalam acara bertema “Pemuda Kini, Pahlawan Masa Depan” itu, Rocky mengungkapkan ada banyak kontradiksi makna kepahlawanan era dulu dan sekarang.

Pada masa dulu, pahlawan kerap diidentikkan dengan pemuda karena memiliki fisik yang kuat dan ide yang cemerlang.

“Dan itu yang menginspirasi Bung Karno untuk mengatakan ‘Beri aku 10 pemuda maka akan ku guncang dunia’,” kata Rocky.

Menurut Rocky, tidak ada yang salah soal identitas kepahlawanan yang dilekatkan pada sosok pemuda. Namun, perlu dicermati apakah pemuda itu berpolitik atau dipolitisir.

Pemuda yang berpolitik sejak awal ia dituntun oleh ide tentang patriotisme, ide tentang kebangsaan, dan ide tentang anti kolonialisme.

Kontradiksi yang kedua, lanjut Rocky, adalah pemberian gelar kepahlawanan atas pertimbangan seseorang berani mengambil resiko, bahkan dengan kematian.

“Yang terjadi sekarang adalah banyak anak-anak muda yang enggan mengambil resiko, bahkan untuk ikut demonstrasi bersama BEM itu, merasa bahwa nanti bakal terlambat studinya, karena itu ia mengatakan ‘ya udah kalian saja’,” jelas Rocky.

“Pengertian-pengertian itu berubah karena ada kepentingan material, pragmatisme, yang mendorong mahasiswa tidak berpolitik,” tambah Rocky.

Acara Literasi Kebangsaan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November. Selain Rocky, hadir pula sebagai narasumber sejarahwan Anhar Gonggong. (*)

share :