Jadi Narasumber di SEAMEO BIOTROP, Wakil Rektor II UICI Jelaskan Tips Membangun Komunikasi yang Efektif di Lingkungan Kerja

Berita

Komunikasi Efektif

Muhtar

Wakil Rektor bidang Non Akademik Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Lely Pelitasari Soebekty mengatakan bahwa komunikasi yang efektif bukan sekedar pertukaran informasi atau kata-kata. Ia mengatakan komunikasi yang efektif juga harus melibatkan perasaan.

Hal tersebut disampaikan Lely saat menjadi narasumber dalam diskusi dengan tema “Komunikasi Efektif dalam Mendukung Suasana Kerja Kondusif dan Karir”. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh SEAMEO BIOTROP pada Kamis (08/09/2022).

Lely menyampaikan komunikasi yang efektif juga harus menghasilkan perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan baik antara pemberi dan penerima pesan.

“Jadi kalau cuma ngomong, ngasih perintah, terus kita terima, bahkan terima dengan greget, berarti itu gak efektif komunikasinya,” tuturnya.

Ia menekankan dalam komunikasi yang efektif itu dibutuhkan interaksi kedua belah pihak, yaitu pemberi pesan dan penerima pesan, sehingga memiliki persepsi yang sama.

“Ketika antara pemberi pesan dan penerima pesan, pesannya tidak sampai dengan hal yang sama, maka ada ada noise yang diakibatkan oleh siapa, oleh pemberi pesannya sendiri, oleh channel atau media yang dipilih, atau error di penerima pesannya,” jelasnya.

Jenis dan Karakteristik Komunikasi Efektif

Selanjutnya Lely menjelaskan jenis-jenis komunikasi, yaitu komunikasi pasif, komunikasi agresif, komunikasi pasif-agresif, dan komunikasi asertif. Dari keempat jenis komunikasi itu, komunikasi asertif adalah komunikasi yang paling baik.

Dalam komunikasi asertif itu, lanjut Lely, dibutuhkan kemampuan dalam menyeimbangkan kemampuan dalam berbicara dan mendengar.

“Kalau anda menjadi pemimpin, maka kemampuan mendengar anda harus lebih tinggi dari kemampuan anda bicara. Menyerap banyak, mendengar banyak, tetapi ketika anda bicara sebentar itu diterima oleh semua tim.

Selanjutnya, kunci kedua dalam komunikasi asertif adalah kemampuan membuat orang lain berbicara. Hal itu penting agar pendapat orang lain tersebut sampai pada pemberi pesan.

“Komunikasi ini membuat kita tahu posisi kita dalam arti kita punya hak berbicara, menyampaikan pendapat, tetapi orang lain juga punya hak didengarkan pendapatnya,” lanjut Lely.

“Jadi ini satu upaya yang membuat nyaman, komunikasi lancar, pesan juga sampai dengan diterima baik, tidak ada yang merasa diintimidasi, baik langsung maupun tidak langsung dan tidak ada juga yang merasa bahwa pendapat atau posisi lebih benar, semua memiliki hak yang sama dan memberikan tempat yang proporsional terhadap lawan berbicara,” imbuh Lely.

share :