Jadi Pembicara di ISPE, Wakil Rektor II UICI Sebut Perlunya Terobosan dalam Sistem Pendidikan Tinggi untuk mengurangi Kesenjangan SDM

Berita

Muhtar

Wakil Rektor bidang Administrasi, Keuangan, SDI dan Kerjasama Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Lely Pelitasari Soebekty mengungkapkan bahwa kesenjangan itu lahir karena struktur ekonomi yang tidak adil.

Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Indef School of Political Economy (ISPE) pada Minggu (08/10/2023) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ia mengutip pemikiran dari Hamilton dan Darity, yang menyatakan bahwa kesenjangan kekayaan rasial antargenerasi terbentuk secara struktural.

“Mengutip Hamilton dan Darity, kesenjangan kekayaan rasial antargenerasi diciptakan secara struktural dan tidak ada hubungannya dengan perilaku individu atau rasial,” tutur Lely.

Lely menegaskan bahwa kesenjangan ekonomi ini perlu segera diatasi, sejalan dengan amanat yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Ia menjelaskan dua dari empat tujuan berdirinya Negara Republik Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Salah satu yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusia melalui pemberian akses yang memadai dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

Selain itu, pemerintah juga dapat memperkuat jaringan pengaman sosial, seperti program subsidi dan bantuan sosial.

“Kuncinya ada tiga hal, yaitu transparan, akuntabel, dan partisipatif,” jelas Lely.

Dorongan Transformasi Digital di Indonesia

Lely juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam bidang sumber daya manusia usia produktif atau yang sering disebut sebagai bonus demografi. Namun, ia mengingatkan bahwa potensi ini juga bisa menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan baik.

“Bonus demografi dapat menjadi ancaman demografi jika tidak dikelola dengan baik,” tegas Lely.

Menurut Lely, melimpahnya bonus demografi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi negara maju dengan ekonomi terbesar keempat di dunia. Namun, hal ini memerlukan terpenuhinya 9 juta talenta digital dan 2 juta pemimpin digital.

Talenta digital dan kepemimpinan digital dianggap sebagai elemen kunci dalam proses transformasi digital di Indonesia.

Lely menjelaskan bahwa ada tiga fase yang harus dilalui dalam transformasi digital ini, yaitu digital literacy, digital talent, digital mindset dan digital culture. Untuk itu diperlukan upaya terobosan dalam sistem pendidikan agar target pemenuhan digital talent ini dapat terpenuhi (*)

share :