Kemal Taruc Sebut Digitalisasi Pendidikan di Indonesia Berjalan Lambat Akibat Sistem yang Terlalu Kaku

Berita

Muhtar

Staf Khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas Dr. Ir. Kemal Taruc, M.Sc., MBA mengatakan sistem pendidikan di Indonesia terlalu kaku dalam merespons perkembangan teknologi digital. Akibatnya, digitalisasi di sektor pendidikan berjalan lambat.

Hal itu ia sampaikan saat berkunjung ke Gedung Rektorat Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) di Jalan H.R Rasuna Said, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (24/08/2022).

Kemal mengungkapkan progres digitalisasi pendidikan berbeda dengan digitalisasi di sektor lain, misalnya dalam hal jual beli atau komunikasi, di mana digitalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

“Menjadi pertanyaan buat saya kalau untuk itu semua kita bisa lakukan dengan mudah dan murah kenapa tidak untuk pendidikan? Apa yang menjadi hambatan?” kata Kemal.

Menurut Kemal, hambatan itu bukan pada teknologinya atau penggunanya tetapi pada kekakuan sistem pendidikan di Indonesia.

“Menurut saya ini agak ironis karena di dunia komersial itu bisa dengan mudah dan cair tetapi di dunia pendidikan kok tidak secair itu?” lanjut Kemal.

Mengenai pendidikan jarak jauh, Kemal mengungkapkan konsep itu sudah pernah ia gagas bersama Prof. Laode dan almarhum Adi Sasono pada awal reformasi tahun 1999.

Ia menceritakan bahwa ide itu berawal dari kesadaran bahwa reformasi 1998 harus diperkuat dengan pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia.

“Saat itu kita mempunya program yang kita sebut dengan distance learning atau pendidikan jarak jauh,” jelas Kemal.

Kemal menjelaskan pengembangan konsep distance learning tersebut dibantu oleh perguruan tinggi asal Malaysia, UNITAR. Konten-konten yang dibuat oleh UNITAR itu kemudian diperbolehkan untuk dimodifikasi. Namun, Indonesia ternyata belum terlalu siap untuk mengaplikasikan konsep tersebut.

“Kami punya inisiatif ini kami sampaikan kepada Universitas Terbuka (UT) sebagai institusi yang menjalankan ternyata juga belum siap. Kemudian kami membuat yayasan sendiri dan kami melakukan sendiri dengan segala keterbatasan,” ungkap Kemal.

Menurut cerita Kemal, hambatan utama yang dihadapi oleh yayasan pada saat itu adalah minimnya akses internet. Oleh sebab itu, distance learning memanfaatkan warnet sebagai media belajar.

“Yang ingin kami tekankan di sini warnet waktu itu kita tempatkan sebagai tempat bertemu para pengguna jasa pendidikan distance learning ini sehingga ada tatap muka di situ. Jadi kalau mau saya sebutkan itu semacam tempat diskusi, berbagi pendapat, berkenalan, selain sebagai tempat tutorial,” jelas Kemal.

Oleh sebab itu, Kemal merasa bahagia dengan hadirnya UICI yang mengusung konsep digital. Ia berharap UICI mampu membawa pendidikan Indonesia ke depan menjadi lebih baik. (*)

share :