Kepala LPM UICI Bedah Dunia Broadcasting di Indonesia, dari Pemancar VHF hingga Digital

Berita

Muhtar

Public Lecture dengan tema Best Practice for Digital Culture with Broadcsting Based, Sabtu (27/11/2021).

Kepala Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Abdul Azis mengatakan perkembangan dunia broadcasting di Indonesia telah sampai pada pemancar digital. Namun, digital dalam konteks ini masih berupa digital terestrial.

Menurut Azis, perkembangan ini sangat terlambat, mengingat digital terestrial dalam dunia broadcasting merupakan generasi keempat dan dunia broadcasting telah dihadapkan pada generasi kesepuluh.

“Jadi digital terestrial adalah generasi keempat dan saat ini yang kita hadapi adalah generasi kesepuluh,” kata Azis dalam Public Lecture yang digelar secara virtual pada Sabtu (27/11/2021) dengan tema Best Practice for Digital with Broadcasting Based.

Azis, yang malang melintang di dunia broadcasting itu menjelaskan perkembangan dunia broadcasting di Indonesia mulai dari 1970-an. Dijelaskannya pada tahun 1970-an hingga 1980-an, masyarakat Indonesia dikenalkan dengan televisi dengan pemancar VHF.

“Kemudian di era 1990-an sudah mulai sedikit modern. Di mana orang sudah mengenal beberapa pemancar dengan pemancar UHF,” kata Azis.

“Pemancar televisi di UHF ini sudah bisa  menampilkan gambar yang berwarna dan juga resolusi yang lebih tinggi, dengan resolusi 720 X 576,” lanjut Azis.

Selanjutnya pada era 2000-an hingga 2010-an, televisi di Indonesia masih menggunakan pemancar UHF dengan resolusi gambar 720 X 576. Namun, pada era 2010-an, masyarakat Indonesia sudah mulai mengenal televisi layar datar.

Pada era 2020-an, masyarakat Indonesia mulai akrab dengan televisi digital. Pemerintah sendiri melalui program Analog Siwtch Off (ASO) akan mengganti siaran televisi analog ke digital.

Namun, Azis menegaskan digital dalam hal ini adalah digital terestrial, yang mana perbedaannya hanya pada kualitas gambar.

“Yang membedakan antara analog dengan digital terestrial hanya pada kualitas. Jadi kualitasnya lebih bagus. Di mana digital ini bisa up sampai high definition (HD),” ungkap Azis.

Pada kesempatan tersebut, Azis menyampaikan bahwa UICI bersama dengan IBNTV melahirkan platform digital untuk broadcasting. Platform ini memberikan ruang kepada instansi-instansi membuat saluran broadcasting.

“Latar belakang lahirnya platform ini adalah untuk menjembatani seluruh stakeholder untuk memiliki saluran televisi, termasuk seluruh kampus, sekolah, pemerintah, supaya mereka memiliki saluran broadcast yang pertama tidak dibatasi peraturan perundang-undangan dan yang kedua lebih murah,” ungkap Azis. (*)

share :