Ketika Seniman Terancam dengan Perkembangan Artificial Intelligence

Artikel

Muhtar

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah menjadi topik utama dalam beberapa tahun terakhir.

Artificial intelligence telah memberikan kontribusi besar dalam banyak aspek kehidupan, dari kesehatan, transportasi, keamanan, bahkan hingga seni.

Melansir dari vice.com, Pada September 2022, sebuah karya lukisan bertajuk “Théâtre D’opéra Spatial” dibuat dengan software Midjourney, menang lomba lukis di AS. 

Lukisan tersebut tidak dibuat dengan tangan. “Théâtre D’opéra Spatial” memenangkan lomba kategori seni digital. Tampak sekali, lukisan itu terlihat seperti lukisan asli

Pemenang lomba dengan nama asli Jason Allen menghasilkan lukisan melalui bantuan Midjourney, perangkat lunak disokong kecerdasan buatan (AI), yang menghasilkan gambar berdasarkan deskripsi teks.

Allen berhasil menghasilkan lukisan yang memberi kesan seolah-olah objek di dalamnya tengah menikmati opera luar angkasa. Sosok klasik di aula bergaya Barok menatap ke arah lingkaran besar yang bermandikan sinar matahari.

Kemenangan “Théâtre D’opéra Spatial” itu tentu saja menuai kontroversi di kalangan seniman dan pencinta seni, beberapa menuding tindakannya akan mematikan sektor pekerja kreatif.

Seorang seniman Genel Jumalon dalam sebuah cuitan di Twitter mengkritik lukisan yang dibuat dengan AI itu

“Ada orang mengikuti kompetisi seni pakai gambar ciptaan AI dan dia menang juara pertama. Kacau banget emang,” kata Genel.

Kritik juga dilontarkan oleh ilustrator Daniel Danger. Melansir dari CNNIndonesia.com, Ia mengatakan “Saya tak ingin berpartisipasi dalam sebuah mesin yang akan mendiskreditkan apa yang saya lakukan.”

Sementara itu seniman Tara McPherson mengaku kecewa karyanya masuk menjadi basis data dari Stable Diffuson – sebuah perangkat untuk memproduksi lukisan AI, tanpa sepengetahuannya.

“Betapa mudahnya ini? Seberapa elegannya karya ini nanti? Sekarang mungkin masih payah, tetapi ini baru permulaan,” kata dia. (*)

share :