Memukau! Taufiq Ismail Bacakan Puisi di Acara Dies Natalis ke-2

Berita

Muhtar

Penyair terkenal, Taufiq Ismail, memukau para tamu undangan pada acara dies natalis ke-2 Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) dengan membacakan empat puisinya yang menyentuh hati.

Taufiq, yang merupakan tokoh sastrawan Angkatan 66 ini membacakan empat puisi dengan iringan gesekan biola oleh Fakhri. Puisi-puisi yang ia baca mengekspresikan perasaannya tentang Indonesia dan kecintaan terhadap buku.

Ia membacakan puisi berjudul Kita Merindukan Anak-anak Indonesia, Buku itu Cahaya, Membaca Buku dan Mengarang, dan Kupu-Kupu di Dalam Buku.

Pembacaan puisi oleh Taufiq Ismail itu mendapat sambutan hangat dari para tamu undangan. Mereka sangat terkesan dengan penampilan Taufiq Ismail yang memukau dan puisi-puisi yang dibacakannya yang menyentuh hati.

Selain Taufiq Ismail, acara puncak dies natalis ke-2 UICI ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dari berbagai latar belakang. Seperti Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainuddin Amali.

Ada Ketua Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia, anggota DPR RI Zainuddin Maliki, Ketua Ombudsman RI Mokhammad Najikh, Peneliti BRIN Prof. Siti Zuhro, Sejarawan Anhar Gonggong.

Dalam sambutannya, Rektor UICI Prof Laode Masihu Kamaluddin mengatakan sebagai universitas digital, sistem perkuliahan di UICI berbeda dengan universitas yang lain.

UICI menggunakan artificial intelligence (AI) dengan platform Artificial Intelligence Digital Simulator Teaching Learning System (AI DSTLS).

AI DSTLS memberikan kemudahan bagi mahasiswa bisa belajar di mana saja, kapan saja, auto reply/marking, secara berulang-ulang (repeatable), lebih efisien, dan akurat.

Model perkuliahan seperti ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk mendapatkan score yang lebih tinggi pada setiap mata kuliah.

Prof. Laode kemudian menjelaskan progress UICI setelah menjalani 1,5 tahun perkuliahan atau 3 semester. Ia mengungkapkan, jumlah mahasiswa UICI tercatat mencapai 1.381 orang, yang tersebar di 5 program studi.

Sebelumnya, kata Prof. Laode, UICI hanya memiliki 4 program studi, yaitu Bisnis Digital, Komunikasi Digital, Informatika dan Sains Data. Pada tahun 2022 UICI menambah satu program studi, yaitu Neuropsikologi.

Selain itu UICI telah membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan yang memiliki semangat inklusif serta nilai-nilai perjuangan untuk menjangkau yang tak terjangkau (to reach the unreachable).

“Hal ini terlihat dari sebaran mahasiswa UICI berdasarkan wilayah, ada di 5 negara, 34 propinsi, dan lebih dari 420 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Demikian pula sebaran berdasarkan latar belakang etnis, agama dan gender,” jelas Prof. Laode.

Meskipun usianya masih tergolong “batita” atau “bawah tiga tahun”, prestasi mahasiswa UICI cukup membanggakan. Pada tahun 2022 ada beberapa capaian seperti Juara 1 Lomba Debat Nasional, Juara 1 Essay Competition, Juara 1 Lomba Enviro Pitch, Juara 1 Lomba Videografi dan prestasi lainnya.

Menurut Prof. Laode, prestasi ini tidak terlepas dari dukungan 11 organisasi mahasiswa (student union) yang dibina langsung oleh para dosen UICI.

Prof. Laode mengatakan, sebagai universitas baru, UICI menyadari pentingnya berkolaborasi dengan banyak pihak. Hingga akhir Desember 2022 tercatat ada 21 MoU dan PKS (Perjanjian Kerja sama) dengan 21 mitra kerja/instansi.

“Kerja sama ini secara tidak langsung menjadi pemicu bagi dosen-dosen UICI khususnya untuk menghasilkan riset-riset dan karya tulis yang memadai. Alhamdulillah hingga tahun 2022 dosen-dosen UICI telah menghasilkan sejumlah jurnal, baik nasional dan internasional,” ungkap Prof. Laode.

Dijelaskan Prof. Laode, usaha UICI untuk tumbuh dan berkembang sangat didukung oleh sistem kerja yang berbasis digital. Dengan sumberdaya manusia/insani di UICI yang 81 persen diantaranya berusia kurang dari 40 tahun, pola kerja WFA (work from anywhere) yang dilakukan sejak awal, dan pola manajemen yang egaliter, telah membentuk budaya kerja kapan saja dan di mana saja tetap produktif.  

Namun demikian, kata Prof. Laode, UICI tetap mematuhi prinsip-prinsip kepatuhan sebagai lembaga pendidikan yang secara administratif mengacu pada aturan Dikti/Kemendikbud.

“Karena itu kami sangat bersyukur dan berterimakasih atas penilaian LL Dikti Wilayah 3 terhadap Laporan Kinerja PDDIKTI dan memberikan status “istimewa” atau 100 persen kepada UICI pada akhir tahun 2022,” lanjut Prof. Laode.

Selanjutnya Prof. Laode mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama memajukan perguruan tinggi ini.

“Kepercayaan anda semua kepada UICI benar-benar telah memberikan semangat dan motivasi kepada kami untuk menjaga kepercayaan itu sebaik-baiknya dengan cara terbaik,” tutup Prof. Laode. (*)

share :