Mengenal 7 Perempuan yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Artikel

Muhtar

Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Peringatan Hari Perempuan Internasional merupakan momentum untuk mengingat kembali perjuangan dan pencapaian perempuan di berbagai bidang.

Di Indonesia, peran perempuan, sepanjang lintasan sejarah, telah menjadi pilar yang kuat dalam membangun peradaban dan mengatasi tantangan.

Dari zaman pra kemerdekaan hingga sekarang, peran mereka terus berkembang, membuktikan bahwa keberanian, kecerdasan, dan keunggulan tidak mengenal batasan gender.

Bahkan, tidak sedikit dari mereka mendapat gelar pahlawan nasional. Berikut ini adalah 7 perempuan Indonesia yang mendapat gelar pahlawan:

1. Martha Christina Tiahahu 

Martha Christina Tiahahu ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1969. Ia merupakan putri dari Kapitan Paulus Tiahahu dari Abubu, Maluku tengah.

Keberanian Martha terlihat sejak remaja. Pada masa itu, ia telah berani mengangkat senjata untuk melawan Tentara Belanda.

Dikutip berbagai sumber, Martha Christina Tiahahu Pemimpin Pasukan dari Maluku karya Hafidz Muftisany, pada1817.

Ia juga ikut serta membantu pasukan Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura. Keberaniannya terkenal di kalangan pendekar.

Naasnya, dalam pertempuran sengit di Desa Wulas, tenggara Pulau Saparua, ayah Martha tertembak mati. Ketika mencoba menyelamatkan sang ayah, Martha justru tertangkap, dan diasingkan di Pulau Jawa.

Martha Christina Tiahahu akhirnya juva meninggal dunia di atas kapal Eversten. Saat itu ia meninggal pada 2 Januari 1818.

2. Raden Ajeng (RA) Kartini. 

RA Kartini merupakan pahlawan perempuan asal Rembang, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai wanita tegar, pintar, rajin, dan kebanggaan perempuan di seluruh Indonesia.

Sejak kecil, Kartini hanya mendapat pendidikan di sekolah dasar Europeesche Lagere School (ELS). Kemudian, dari usia 12 hingga 16 tahun, Kartini harus berdiam diri dalam pingitan.

Walaupun demikian, semangatnya dalam memperjuangkan emansipasi wanita telah terbukti melalui tulisan-tulisannya yang menjelaskan harapannya akan kemajuan wanita Indonesia. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dibukukan dalam judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

RA Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964.

3. Dewi Sartika 

Mengutip Wikipedia, Raden Dewi Sartika adalah seorang advokat dan tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1966.

Dewi Sartika lahir di Bandung tahun 1884. Kedua orang tuanya dibuang ke Ternate karena menentang pemerintah Hindia Belanda. 

Semangat Dewi Sartika di dunia pendidikan telah mendorongnya untuk mendirikan Sekolah Istri pada tahun 1904.

Awalnya, murid Dewi Sartika hanya 20 orang. Kegiatan belajar-mengajar pun dilakukan di salah satu ruangan Kantor Kepatihan Bandung.

Di sana, para perempuan diajarkan menulis, membaca, berhitung, menjahit, menyulam, dan beberapa pendidikan agama.

Karena terus berkembang, pada tahun 1910, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Kautamaan Istri. Sekolah tersebut telah berhasil menjadi inspirasi sekolah-sekolah perempuan di daerah lain.

Pada akhirnya, di masa Perang Kemerdekaan, agresi militer menghentikan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dewi Sartika pun mengungsi ke Cinean, Jawa Barat dan meninggal pada 1947.

4. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Pada tahun 1880, ia menikah dengan Teuku Umar, dan bersama-sama mereka melakukan perlawanan melawan penjajah Belanda

Pada tahun 1905, Cut Nyak Dien tertangkap oleh Belanda dan diasingkan di Sumedang selama setahun karena dianggap membahayakan keamanan.

Meskipun mengalami penderitaan, semangat perjuangannya tetap berkobar. Cut Nyak Dien akhirnya meninggal pada tahun 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Pada tahun 1964, pengabdiannya yang besar diakui, dan ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

5. Nyi Ageng Serang 

Nyi Ageng Serang lahir pada tahun 1752 dengan nama Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi putri. Nama itu diberikan oleh Pangeran Natapraja, penguasa Serang bagian dari Kerajaan Mataram.

Ia adalah perempuan pejuang yang pernah memimpin pasukan dalam Perang Jawa atau juga dikenal sebagai Perang Diponegoro 1825-1830.

Nyi Ageng Serang dikenal sebagai sosok perempuan yang berani dan cerdik dalam menyusun strategi melawan penjajah. Salah satu strateginya adalah melakukan penyamaran.

Atas jasanya dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah, Nyi Ageng Serang mendapat gelar pahlawan nasional pada tahun 1974.

6. Malahayati

Malahayati atau Keumalahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Ia lahir pada 1 Januari 1550 dan wafat pada 1615.

Malahayati merupakan laksmana perempuan pertama di dunia. Ia dikenal dengan keberaniannya dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Portugis pada abad ke-16 M.

Salah satu momen terkenal adalah ketika ia berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam sebuah pertempuran di perairan Aceh.

Malahayati ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 2017. Hari kelahirannya ditetapkan sebagai Hari Perayaan Internasional.

7. Rasuna Said

Salah satu perempuan hebat dari Maninjau, Sumatera Barat adalah Hj Rangkayo Rasuna Said. Ia merupakan pahlawan nasional yang bergerak atas isu-isu perempuan. Ia lahir di dekat Danau Maninjau, Sumatera Barat, 14 September 1910.

Rasuna Said menempuh pendidikan di Pesantren Ar-Rasyidiyah dan dilanjutkan di Pesantren Diniyah School Putri Padang Panjang.

Sejak di pesantren, Rasuna Said telah mengajar para perempuan. Ia ingin sekali memasukkan kurikulum politik dalam kegiatan belajar-mengajar tersebut. Namun karena ditolak, ia akhirnya bertekad mengabdikan dirinya pada negara.

Rasuna Said mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi tahun 1930. Dia secara aktif melakukan pergerakan nasional dan dengan berani melantangkan pidato-pidato yang mengecam pemerintahan Hindia-Belanda, termasuk lewat tulisan.

Ia pernah di penjara karena pidatonya yang mengecam Belanda. Karena itu, ia menjadi wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang. Rasuna Said ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1974.

share :