Mengenal Abu Nawas, Penyair Sufi yang Dikenal Jenaka

Artikel

Abu Nawas

Muhtar

Abu Nawas merupakan sosok penyair dan sufi terkenal dalam sejarah perkembangan peradaban Islam. Namanya identik dengan kisah 1001 malam dan syairnya yang berjudul al a’tiraf atau pengakuan.

Bagi sebagian orang, ia dikenal karena kisah jenakannya. Namun, bagi sebagian yang lain, ia adalah salah satu penyair terbesar dalam sejarah sastra Arab klasik.

Di Indonesia, namanya kerap disamakan dengan sosok Nasruddin Hoja. Padahal, keduanya adalah sosok yang berbeda.

Abu Nawas hidup di kota Bagdad pada abad ke-8 Masehi di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah Al-Amin.  Sedangkan Nasruddin Hoja hidup di Turki pada abad ke-13 Masehi di masa Kesultanan Seljuk Rum.

Abu Nawas dikenal juga dengan nama Abu Nuwas. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami. Ia lahir di Kota Ahvaz di negeri Persia. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab dan Persia.

Darah Arab berasal dari ayahnya yang bernama Hani, seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan I-Khalifah terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus. Sementara darah Persia ia peroleh dari ibunya yang bernama Golban atau Jelleban.

Sejak kecil, Abu Nawas telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Ia kemudian dibawa ibunya ke kota Basra, Irak. Di sana, ia belajar beberapa ilmu agama seperti ilmu hadits, sastra Arab, dan ilmu Al-Quran.

Dilansir dari republika, Abu Nawas sempat dijual oleh ibunya kepada penjaga toko dari Yaman bernama, Sa’ad al-Yashira.

Sosoknya yang cerdas menarik perhatian Walibah ibnu al-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nawas dari tuannya.

Dari Al Hubab, ia belajar tentang teologi dan tata bahasa. Al Hubab pula yang mengajarkannya puisi. Selain dengan Al Hubab, Abu Nawas banyak belajar tentang syair dari Khalaf al-Ahmar di Kufah.

Syair Abu Nawas

Pada masa mudanya, Abu Nawas dikenal sebagai penyair yang nyentrik. Tema syairnya banyak berkutat pada masalah anggur dan cinta. Hal tersebut tidaklah mengherankan karena semasa mudanya ia menyukai kehidupan hura-hura dan berpesta pora.

Melansir dari Wikipedia, Abu Nawas pada masa mudanya adalah pemabuk berat. Meski begitu, kepiawaiannya dalam mencipta syair ketika itu nyaris tak tertandingi.

Terbukti, walaupun dalam keadaan mabuk, ia tetap mampu menelurkan mutiara-mutiara kata yang indah.

Pergeseran tema syair terjadi seusai ia dipenjara. Faktor usia juga berpengaruh terhadap tema-tema syair yang semakin religius, seperti tema tentang pertaubatan dan masa penantian di hari tua.

Berikut adalah salah satu syair terkenal dari Abu Nawas yang berjudul Al I’tiraf atau pengakuan

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka.

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

Dosaku bagaikan bilangan pasir. Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

Umurku ini setiap hari berkurang. Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

Wahai, Tuhanku! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

 

 

share :