Menggali Pemikiran Kartini dalam Perjuangan Emansipasi Perempuan

Prestasi & Karya

Muhtar

Penulis: Riris Rifkiyah Alfitriyah*

Raden Ajeng Kartini, sosok yang begitu berpengaruh dalam sejarah Indonesia, tak henti memberikan inspirasi bagi perjuangan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Lewat pemikiran-pemikirannya yang revolusioner, Kartini telah menjadi ikon perjuangan emansipasi perempuan di negeri ini.

Kartini hidup pada masa kolonial Belanda di awal abad ke-20. Pada masa itu, norma-norma sosial yang kuat mengikat perempuan dalam peran-peran tradisional yang terbatas. Namun, Kartini menolak menjadi korban konvensi-konvensi tersebut. Lewat surat-suratnya, Kartini menggugat dan memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam hal pendidikan dan kebebasan.

Salah satu hal terpenting dalam pemikiran Kartini adalah pendidikan. Kartini meyakini bahwa pendidikan adalah kunci untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan ketergantungan. Baginya, perempuan harus memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Pemikiran ini masih sangat relevan hari ini. Masih banyak perempuan di Indonesia dan di seluruh dunia yang tidak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang layak. Oleh karena itu, gagasan Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan tetap menjadi inspirasi bagi gerakan pendidikan perempuan saat ini.

Kartini juga aktif memperjuangkan emansipasi perempuan, yaitu pembebasan perempuan dari peran-peran tradisional yang terbatas. Dia menentang pernikahan paksa dan menekankan hak perempuan untuk memilih pasangan hidup mereka sendiri. Selain itu, Kartini juga mendukung partisipasi perempuan dalam kegiatan sosial dan politik.

Pemikiran Kartini tentang emansipasi perempuan telah memberikan inspirasi bagi gerakan feminis di Indonesia dan di seluruh dunia. Meskipun telah ada kemajuan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, masih banyak tantangan yang harus diatasi. Diskriminasi gender, kekerasan terhadap perempuan, dan ketidaksetaraan dalam lapangan kerja masih menjadi masalah yang serius.

Kartini juga mengakui pentingnya peran perempuan dalam pembangunan nasional. Dia percaya bahwa perempuan memiliki potensi yang besar untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih  baik. Dengan memberikan  kesempatan yang sama bagi perempuan dalam berbagai bidang, Kartini berharap Indonesia bisa mencapai kemajuan yang lebih besar secara keseluruhan.

Pemikiran ini juga relevan dalam konteks masa kini, di mana partisipasi perempuan dalam pembangunan masih menjadi isu penting. Meskipun telah ada program-program pemberdayaan perempuan dan kebijakan kesetaraan gender, masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang sama dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan.

Pemikiran Kartini tentang pendidikan, emansipasi perempuan, dan peran perempuan dalam pembangunan nasional telah memberikan landasan yang kuat bagi gerakan emansipasi perempuan di Indonesia. Meskipun hidup di zaman yang berbeda, gagasan-gagasan Kartini tetap relevan dalam menanggapi tantangan-tantangan yang dihadapi perempuan masa kini. Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan Kartini menuju kesetaraan gender yang lebih baik di masa depan.

Sumber

  1. Djojohadikusumo, Soedjatmoko. (1982). Kartini: The Complete Writings, 1898-1904. Jakarta: The Taman Siswa Press.
  2. Nursamsi, A. (2012). Raden Ajeng Kartini: Suara untuk Perempuan. Jakarta: Penerbit Bentang.
  3. Susanto, A. (2002). Kartini: Kritik Pendidikan Patriarki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  4. Kartini, R. A. (1964). Habis Gelap Terbitlah Terang. Jakarta: Balai Pustaka.
  5. Setyowati, N. (2017). Kartini dan Emansipasi Perempuan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
  6. Soekardi, H. (1997). Peran Wanita dalam Pembangunan Nasional: Pandangan Kartini. Jakarta: Penerbit Jambatan.

 

*Mahasiswa Neuropsikologi UICI Batch 6, Fungsionaris Kohati PB HMI

share :