Para Perempuan di Balik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Artikel

Muhtar

Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 tidak diperjuangkan oleh kaum laki-laki saja. Ada banyak tokoh perempuan yang turut berperan melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan.

Sebut saja Cut Nyak Dien. Pahlawan dari Aceh ini ikut berjuang secara fisik dengan memimpin perjuangan rakyat di pedalaman Meulaboh melawan Belanda.

Di Sumatera Barat ada nama Rohana Kuddus. Sebagai seorang jurnalis, ia turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.

Selain dua nama tersebut, masih banyak nama lain dari kaum perempuan yang turut memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Peran kaum perempuan tidak bisa dikesampingkan. Bahkan saat peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, ada banyak tokoh yang terlibat.

Berikut adalah 7 perempuan yang terlibat dalam Proklamasi Kemerdekaan RI yang dilansir dari magdalene.co:

1. Fatmawati

Fatmawati Lahir di Bengkulu pada  5 Februari 1923 di Bengkulu. Ia memiliki andil besar dalam penyelenggaraan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Fatmawati merupakan tokoh perempuan yang menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta.

Selain itu, Fatmawati juga membuka dapur umum di rumahnya untuk menyuplai makan pagi untuk rakyat yang hadir dalam acara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

2. Oetari Soetarti

Oetari turut hadir menyaksikan detik-detik Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Ia merupakan mahasiswi Ika Daigaku (sekolah kedokteran pada zaman Jepang).

Ia bertugas sebagai salah satu anggota pos Palang Merah Indonesia (PMI) di Bidara Cina.

Oetari kemudian menikah dengan seorang teman kampusnya Cr. Suwardjono Surjaningrat, yang kemudian menjadi Menteri Kesehatan era Soeharto pada periode 1978-1988.

3. Retnosedjati

Selain Oetari, Retnosedjati juga salah satu mahasiswi Ika Daigaku yang hadir dalam detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Ia lahir di Den Haag, Belanda pada 29 Maret 1924. Dia menjadi anggota Palang Merah Indonesia (PMI) di bawah Prof. Soetojo setelah Indonesia merdeka.

Sebelumnya, pada perang kemerdekaan Indonesia, ia sudah menjadi anggota PMI dan bertugas mengurus obat-obatan untuk prajurit di Solo, Yogyakarta, serta Klaten.

4. Yuliari Markoem

Yuliari Markoem juga merupakan mahasiswi Ika Daigaku. Saat Proklamasi, ia  bertugas dalam penaikan Bendera Pusaka.

Saat perang kemerdekaan, ia turut andil sebagai penghubung dalam kegiatan pengiriman kebutuhan medis di daerah-daerah gerilya.

5. Gonowati Djaka Sutadiwira

Perempuan asal Semarang ini turut punya andil dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Gonowati bertugas sebagai anggota pengamanan pada saat itu.

Ia juga merupakan mahasiswi Sekolah tinggi Kedokteran  Ika Daigaku dan juga anggota Palang Merah Indonesia (PMI).

Saat perang kemerdekaan, ia berperan dalam membantu mengumpulkan obat-obatan dalam Perang Kemerdekaan.

6. Zuleika Rachman Masjhur Jasin

Zuleika merupakan anggota PMI Mobile Colonne setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Di hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Zuleika yang juga merupakan pemimpin mahasiswi Ika Daigaku turut menyaksikan detik-detik proklamasi di jalan Pegangsaan Timur No. 56 itu.

7. SK Trimurti

Nama lengkapnya adalah Surastri Karma Trimurti. Ia dikenal sebagai seorang jurnalis yang sangat anti terhadap kolonialisme.

Perempuan kelahiran Boyolali, Jawa Tengah itu aktif menyuarakan permasalahan perempuan. Ia percaya dengan revolusi kemerdekaan, perempuan bisa mencapai kebebasan sebagai warga negara.

Saat penjajahan, ia pernah ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Hindia Belanda karena menyebarkan pamflet anti-kolonialisme.

Setelah bebas dari penjara, S.K Trimurti aktif menulis dengan nama samaran dan terkenal kritis serta anti-kolonialisme. Salah satu koran tempat ia bekerja adalah Pikiran Rakyat dan bersama dengan suaminya ia pun menerbitkan koran Pesat, yang dilarang oleh pemerintah Jepang.

Dalam Proklamasi Kemerdekaan, ia diminta mengibarkan Bendera Pusaka Merah Putih, tetapi ia menolak dan merekomendasikan Latied Hendraningrat dari Peta (Pembela Tanah Air). Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi Menteri Perburuhan pertama.

share :

Newsletter

Signup our newsletter to get update information, news or insight for free.