Peringati Hari Pahlawan, UICI Gelar Literasi Kebangsaan “Pemuda Pahlawan Digital”

Berita

Pahlawan Digital

Muhtar

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022, Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) menggelar Literasi Kebangsaan dengan tema Pemuda Pahlawan Digital pada Kamis (10/11/2022).

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah dan Jurnalis Sabir Laluhu.

Kegiatan Literasi Kebangsaan itu juga sekaligus menandai rangkaian agenda Milad ke-2 UICI yang jatuh pada 15 Januari 2022.

Literasi Kebangsaan yang dikemas dalam bentuk webinar itu dibuka secara langsung oleh Wakil Rektor bidang Non Akademik Lely Pelitasari Soebekty.

Dalam sambutannya, Lely menyampaikan dalam konteks kekinian, dalam konteks digital, pahlawan memiliki makna yang luas. Menurut Lely, pada wilayah mikro, pahlawan itu bisa jadi adalah orang-orang terdekat, seperti orang tua, kakak, adik, dan lain-lain.

“(Pahlawan) adalah mereka yang selalu hadir saat kita membutuhkan. Mereka lah sosok pahlawan yang paling dekat dengan kita,” kata Lely.

Lely menyampaikan kata kunci yang harus melekat pada sosok pahlawan adalah berani dan berkorban. Seorang pahlawan harus berani dan mau berkorban untuk memperjuangkan kebenaran.

“Dua kata ini harus melekat menurut saya karena di dalamnya menjadi satu. Ada orang yang memiliki keberanian tetapi tidak mau berkorban,” jelas Lely.

Sementara itu narasumber pertama, Dedi Kurnia Syah mengatakan pahlawan di era digital bukanlah mereka yang pandai mengoperasikan alat-alat digital, tetapi mereka yang mampu menginternalisasi digital itu sendiri.

“Ternyata digital tidak hanya itu, maka kemudian dalam perspektif kepahlawanan, kalau kita bicara soal generasi anak-anak muda sekarang, menjadi pahlawan digital bukan soal mereka native atau tidak, bukan soal mereka terbiasa atau tidak, bukan soal mereka terbiasa atau tidak, bukan soal apakah mereka bisa menggunakan semua alat-alat teknologi atau tidak, tapi lebih jauh dari itu, yakni teknologi termasuk juga era digital sudah menginternalisasi dalam sifat, termasuk juga sikap-sikap dari individu-individu,” tutur Dedi.

Dedi mencontohkan dari internalisasi itu lahirnya gerakan-gerakan besar di beberapa negara, seperti Lebanon dan Mesir, di mana gerakan itu dimulai dari platform-platform digital.

Hal itu berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Platform-platform digital belum menjadi pemantik dari munculnya gerakan-gerakan besar seperti yang pernah terjadi di masa lampau, misalnya tahun 1965 dan 1998.

Terkait kepahlawanan, Dedi menegaskan kepahlawanan di era digital dengan konvensional itu jauh berbeda. Di era digital, kepahlawanan ruang lingkupnya lebih ke privat atau personal.

“Karena ruang lingkupnya privat, cukup kita menjadi individu-individu yang minimal bermanfaat bagi diri kita sendiri, itu kita sudah masuk dalam kategori pahlawan digital,” jelas Dedi.

“Kenapa demikian, karena baik buruknya situasi digital bergantung kepada siapa user-nya. Karena kita sebagai user, saya kira perlu berangkat dari wisdom itu tadi. Sepanjang kawan-kawan bisa menjaga kebijaksanaaan, minimal self wisdom, kebijaksanaan personal, maka kita sudah menjadi pahlawan digital,” lanjut Dedi.

Sementara itu narasumber kedua, Sabir Laluhu menekankan pentingnya menginternalisasikan nilai-nilai kepahlawanan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Nilai-nilai kepahlawanan itu harus menjadi spirit bagi anak-anak muda untuk menghasilkan karya. Untuk itu, Sabir menekankan pentingnya literasi.

Di era digital ini, literasi menjadi sangat penting, mengingat penggunaan internet meningkat signifikan. Literasi menjadi kunci penyebaran informasi yang sehat.

“Ruang digital ini menjadi sarana manifestasi dari kemampuan kapasitas dan keinginan dari pemuda untuk menghasilkan karya untuk melawan disinformasi, untuk melawan hoaks, untuk menyamakan fakta dan data,” jelas Sabir.

Terkait literasi, Sabir menyampaikan empat kata kunci, yaitu membaca, dialog, menulis dan karya. (*)

share :