Perkuat Silaturahmi Sivitas, UICI Gelar Halalbihalal

Acara-Berita

Muhtar

Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) menggelar Halalbihalal pada Selasa (16/04/2024) malam dengan tema “Puasa & Idul Fitri: Spiritualitas dan Solidaritas”.

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut adalah anggota Dewan Pakar Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Moksen Idris Sirfefa.

Rektor UICI Prof. Laode Masihu Kamaluddin dalam sambutannya mengajak kepada para sivitas akademika UICI untuk memperkuat silaturahmi dengan saling memaafkan satu sama lain.

Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa Halalbihalal merupakan tradisi yang berkembang di Indonesia. Sejarah awal digelarnya Halalbihalal ini terjadi pada masa awal kemerdekaan. Saat itu, para elit politik sedang dilanda konflik.

Bung Karno, yang saat itu menjabat sebagai presiden meminta fatwa kepada KH Abdul Wahab Hasbullah pada tahun 1948.

Atas saran KH Wahab, pada Hari Raya Idul Fitri di tahun 1948, Bung Karno mengundang seluruh tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahim yang diberi judul ‘Halalbihalal.’ Para tokoh politik akhirnya duduk satu meja.

“Sejak saat itu, berbagai instansi pemerintah dan hingga kini menyelenggarakan halalbihalal,” kata Prof. Laode.

Sementara itu Mokse Idris Sirfefa dalam paparannya menyampaikan spiritualitas dan solidaritas menjadi fondasi dari ibadah puasa dan zakat.

Ia menjelaskan bahwa tujuan dari puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Untuk mencapai derajat takwa, seorang muslim harus melewati berbagai macam ibadah.

“Ibadah-ibadah tersebut seperti salat tarawih, qiyamul lail, mengaji, dan lain-lain,” jelas Moksen.

Moksen menjelaskan derajat takwa adalah derajat puncak kemuliaan. Dengan mencapai derajat takwa, seorang muslim akan mudah terpenuhi keinginannya.

“Al Qur’an memberitahukan kepada kita, apabila kita berada pada posisi itu, apa saja yang mau kita lakukan terlaksana saja,” tambah Moksen.

Lebih lanjut, Moksen menjelaskan empat hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah yang itu juga sebagai ciri dari orang yang bertakwa, yaitu berinfak, menahan amarah, saling memaafkan, dan segera memohon ampun kepada Allah ketika berbuat salah. (*)

share :