Pikiran dan Makna Diri dalam Teori Interaksionisme Simbolik

Artikel

Nike Ardina

Head of Public Relations of Universitas Insan Cita Indonesia

Teori interaksionisme simbolik berkaitan dengan pemikiran Max Weber dalam teori behaviorisme sosial. Teori ini pertama kali dikenalkan dalam buku “Pikiran, Diri, dan Masyarakat” yang ditulis oleh Herbert Blumer, dkk. Namun demikian, teori ini berawal dari pemikiran George Herbert Mead, seorang profesor filsafat di Universitas Chicago. Ia menginspirasi lahirnya teori ini melalui seminar, kuliah, dan ceramah, dan Mead sendiri tidak pernah menulis secara sistematis teorinya.

Frasa interaksionisme simbolik diciptakan oleh Herbert Blumer yang diklaim Mead sebagai aktivitas paling manusiawi dan memanusiakan, yakni berbicara satu sama lain. Sehingga dalam sejarahnya, teori interaksi simbolik disusun oleh beberapa sosiolog, antara lain; John Dewey, Charles Horton Cooley, George Herbert Mead dan Herbert Blumer (Teresia Noiman Derung, 2021).

Selain teori Max Weber, Mead sangat dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin, yang menyatakan bahwa organisme hidup secara berkelanjutan. Terlibat dalam usaha penyesuaian diri dengan lingkungannya, sehingga organisme itu mengalami perubahan terus menerus.

Dari dasar pemikiran inilah, Mead melihat pikiran manusia sebagai sesuatu yang muncul dalam proses evolusi secara alamiah. Proses evolusi ini memungkinkan manusia menyesuaikan diri secara alamiah pada lingkungan di mana dia hidup.

Ritzer (2014;264) menuliskan pandangan Mead mengenai pikiran. Pikiran (mind) bukanlah proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri namun merupakan fenomena sosial. Ia muncul dan berkembang dalam proses sosial. Proses sosial ini mendahului pikiran dan proses sosial bukanlah produk pikiran.

Mead mengatakan bahwa pikiran (mind) mempunyai kemampuan untuk memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan. Ini berarti pikiran memberikan respon terhadap organisasi tertentu. Dan, apabila individu mempunyai respon itu dalam dirinya, itulah yang dinamakan pikiran.

Asumsi utama dari teori ini adalah pikiran, konsep diri, dan lingkungan tempat kita tinggal diciptakan melalui komunikasi—interaksi simbolik. Interaksi simbolik bukan hanya bicara. Istilah ini mengacu pada bahasa dan gerak tubuh yang digunakan seseorang untuk mengantisipasi cara orang lain akan merespons.

Premis yang menyusun teori ini antara lain:

  • makna diyakini sebagai konstruksi sosial,
  • bahasa adalah sumber makna,
  • berpikir adalah proses untuk mengambil peran orang lain,
  •  makna diri seseorang adalah pantulan dari makna sosial, atau dengan kata lain makna diri seseorang adalah pencerminan orang lain di sekitarnya,
  • makna masyarakat sendiri adalah efek sosialisasi dari orang lain.
  1. Makna 

Makna bagi Mead adalah konstruksi terhadap realitas sosial atau lingkungan dimana tempat seseorang itu tinggal. Dimana terjadi proses rangsangan pada diri individu dari lingkungan tempat ia tinggal, rangsangan ini kemudian ditafsirkan, kemudian ditanggapi.

  • Manusia bertindak terhadap orang atau benda berdasarkan makna yang mereka berikan kepada orang atau benda itu.
  • Fakta tidak berbicara sendiri; itu interpretasi kita.
  • Begitu orang mendefinisikan situasi sebagai nyata, konsekuensinya juga sangat nyata.
  • Membuat makna bukanlah tugas individu. Interpretasi adalah usaha bersama.
  1. Bahasa 

Klaim interaksionis bahwa kecerdasan manusia adalah kemampuan untuk secara simbolis mengidentifikasi banyak dari apa yang kita temui.

  • Makna muncul dari interaksi sosial yang dimiliki orang satu sama lain.
  • Makna tidak melekat pada objek; itu tidak ada sebelumnya dalam keadaan alami.
  • Makna dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa maka istilahnya interaksionisme simbolik
  1. Berpikir 

Manusia memerlukan stimulasi sosial dan paparan sistem simbol abstrak untuk memulai proses pemikiran konseptual yang menjadi ciri spesies manusia. Menurut Mead, pikiran (mind) mempunyai kemampuan untuk memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan. Ini berarti pikiran memberikan respon terhadap organisasi tertentu. Dan, apabila individu mempunyai respon itu dalam dirinya, itulah yang dinamakan pikiran. Secara pragmatis, pikiran juga melibatkan proses berpikir yang mengarah pada penyelesaian masalah.

  • Interpretasi individu terhadap simbol dimodifikasi oleh proses pemikirannya sendiri.
  • Interaksionis simbolik menggambarkan pemikiran sebagai percakapan batin (perhatian)
  • Bahasa adalah perangkat lunak yang mengaktifkan pikiran.
  • Tanpa interaksi simbolis yang dibutuhkan oleh pembelajaran bahasa, kita tidak akan dapat memikirkan tanggapan kita—kita hanya akan bereaksi.
  1. Makna Diri 

Konsep diri individu menurut Mead adalah seperti berkaca pada orang lain, dimana dihasilkan dari asimilasi penilaian orang lain yang signifikan. Interaksionis simbolik yakin bahwa diri adalah fungsi bahasa. Tanpa bicara tidak akan ada konsep diri. Mead berpendapat bahwa bayi yang baru lahir dan binatang tidak mempunyai diri karena diri dapat terbentuk melalui aktivitas dan hubungan sosial. Ketika diri sudah berkembang, ia tetap ada walaupun suatu saat kontak sosial tidak terjadi. Diri berhubungan secara dialektis dengan pikiran.

Dalam relasi sosial, diri sering berperan sebagai obyek dan subyek. Diri muncul dan berkembang jika terjadi komunikasi sosial atau komunikasi antarmanusia. Cara untuk mengembangkan diri adalah refleksivitas atau kemampuan untuk menempatkan diri secara sadar ke dalam tempat orang lain dan bertindak seperti orang lain itu. Akibatnya adalah orang mampu memeriksa dirinya sendiri sebagaimana orang lain juga memeriksa diri sendiri.

  • Menolak gagasan bahwa kita bisa melihat sekilas siapa kita melalui introspeksi.
  • Sebaliknya, bahwa kita melukis potret diri kita dengan sapuan kuas yang berasal dari mengambil peran orang lain—membayangkan bagaimana kita memandang orang lain.
  • Citra mental sebagai diri berkacamata dan bersikeras bahwa itu dibangun secara sosial
  1. Masyarakat 

Mead juga mengungkapkan pikirannya tentang masyarakat. Saat lahir. “Saya” hanya terbentuk melalui interaksi simbolik yang terus-menerus—pertama dengan keluarga, selanjutnya dengan teman bermain, kemudian di lembaga-lembaga seperti sekolah. Ketika orang lain yang digeneralisasi berkembang, orang komposit imajiner ini menjadi mitra percakapan dalam dialog mental yang berkelanjutan. Dengan cara ini, anak-anak berpartisipasi dalam sosialisasi mereka sendiri. Anak secara bertahap memperoleh peran orang-orang di masyarakat sekitarnya.

  • Individu-individu ini menyelaraskan tindakan mereka dengan apa yang dilakukan orang lain untuk membentuk sistem di mana mereka ambil bagian.
  • Generalisasi lain membentuk cara kita berpikir dan berinteraksi dalam komunitas.

Sumber:

Griffin, Em,  a First Look at Communication Theory, (New York, 2009), E-book, 10th Edition

McQuail, Denis, Mass Communication Theory (edisi ebook, edisi ke-6), (London, Age Publication, 2010)

share :