Prof. Taruna: LGBT Sebagian Besar Disebabkan Faktor Lingkungan dan Kebiasaan

Berita

Muhtar

Prof. Taruna Ikrar mengatakan sebagian besar kasus Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) disebabkan karena faktor lingkungan dan kebiasaan. Faktor lain yang jadi penyebab LGBT adalah gen, tetapi itu sangat kecil.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada Senin (09/10/2023).

“Yang betul-betul secara genetik itu prevalensinya sangat kecil, satu diantara seratus ribu (kasus),” jelas Prof. Taruna.

Guru Besar Farmakologi itu mengatakan bahwa normalnya manusia itu menyukai lawan jenis. Namun, dalam praktiknya ada yang justru menyukai sesama jenis, biseksual, dan bahkan ada yang transgender.

Menurut Taruna Ikrar, adanya praktik semacam itu karena ditentukan oleh struktur sinapsis yang sifatnya reversible.

“Artinya, yang reversible itu dipengaruhi oleh faktor-faktor tadi. Ada faktor lingkungan, atau faktor kebiasaan, atau faktor sekeliling,” kata Prof. Taruna.

Wakil Ketua Dewan Pakar KAHMI itu menjelaskan dalam struktur otak, orientasi seksual itu ditentukan oleh neuro-plasticity, neuro-genesis, dan neuro-compensation.

LGBT

Ia menjelaskan Neuro-plasticity adalah adalah kemampuan elastisitas dari sistem syaraf manusia.

“Dan sistem syaraf itu ditentukan betul bagaimana cakrawala berpikir kita,  bagaimana cara behavior kita, dan sebagainya,  oleh sistem syaraf yang kita sebut dengan sinapsis,” jelasnya

Sedangkan neuro-genesis adalah kemampuan sistem syaraf dalam melakukan pembaharuan atau regenerasi setiap 120 hari.

“Kemudian terakhir ada yang disebut dengan Neuro-compensation. Artinya kelenturan, proses perubahannya, struktur itu ditentukan oleh aktivitas kita,” tambahnya.

Ia menjelaskan, selain tiga variabel tersebut, orientasi seksual seseorang juga  dipengaruhi oleh faktor hormonal.

Bisa Normal Kembali

Prof. Taruna menegaskan perubahan pada diri seseorang sehingga menjadi LGBT bukanlah terjadi pada struktur otak, tetapi lebih kepada fungsi.

Karena perubahan itu ada pada fungsi, maka seseorang itu bisa kembali normal dengan berbagai pendekatan. Sementara untuk kasus LGBT karena faktor genetik, maka seseorang itu bisa memilih menjadi laki-laki atau perempuan dengan pendekatan medis.

“Hal itu dulu pernah terjadi kan pada salah seorang atlet, yang awalnya perempuan, akhirnya memilih menjadi laki-laki,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Taruna menegaskan LGBT tidak layak dilegalkan. Menurutnya, ini, menjadi tugas berbagai pihak untuk mencegah gerakan ini berkembang.

 

 

share :