Public Lecturer UICI: ChatGPT Buka Perspektif Baru Tentang AI

Berita

ChatGPT

Muhtar

Kemunculan ChatGPT menyentak dunia. Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang pada awalnya dianggap biasa saja, berubah sejak kemunculan ChatGPT.  

Platform berbasis AI yang dikembangkan oleh OpenAI itu membuat dunia berdebat, apakah AI ini bermanfaat atau berbahaya.

Padalah, ChatGPT bukanlah aplikasi AI pertama yang muncul di publik. Sebelumnya, AI sudah diaplikasikan di media sosial, kamera smartphone, dan lain-lain.

Rustamaji, konsultan IT di PT Xynexis mengungkapkan kemunculan ChatGPT telah membuka mata dunia.

“ChatGPT telah membuka mata dunia. Ia menjangkau banyak bidang, mudah diakses, menyediakan API bagi developer pihak ketiga, dan hadir di saat yang tepat setelah pandemi,” kata Rustamaji dalam Public Lecture dengan tema Everything You Need to Know About Artificial Intelligence, Sabtu (12/08/2023).

Ia mengungkapkan, manfaat ChatGPT di antaranya untuk membuat konten, seperti membuat artikel, membuat judul yang viral, dan membuat scipt video.

Untuk pendidikan, ChatGPT bermanfaat untuk siswa dan guru, di antaranya untuk membuat soal ujian, membuat tugas, dan membuat lesson plan atau RPP.

“Untuk keperluan lain, ChatGPT bisa membantu manusia untuk membuat naskah pidato, khotbah jum’at, dan lain-lain,” jelasnya.

Rustamaji menambahkan, ChatGPT mempunyai keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari ChatGPT adalah tidak mengenal lelah, memiliki database yang sangat besar, dan memahami konteks.

Sedangkan kelemahan dari ChatGPT adalah apa yang dikeluarkan tergantung pada data yang dimasukkan, bisa berhalusinasi sehingga dapat memberikan jawaban yang salah, dan data yang  digunakan terbatas tahun 2021 dan sebelumnya.

ChatGPT untuk Pendidikan

Lebih lanjut, Rustamaji mengatakan bahwa dunia pendidikan adalah salah satu bidang yang paling terdampak AI, khususnya ChatGPT.

Tidak mengherankan apabila kehebohan tentang ChatGPT ini banyak terjadi di dunia pendidikan. Sebagian orang bahkan menganggap ChatGPT ini sebagai lonceng kematian pendidikan.

Mereka menganggap dengan hadirnya ChatGPT, siswa bisa menjawab pertanyaan dan tugas tanpa harus memahami.

“Hal ini menimbulkan kekhawatiran siswa akan malas belajar karena semua bisa dikerjakan oleh AI,” tutur Rustamaji

Menjawab kelompok yang pesimis itu, Rustamaji menyampaikan penelitian yang dilakukan oleh Benjamin Bloom. Pada tahun 1984, Bloom mencari metode pembelajaran yang sama efektifnya dengan les privat (1:1).

Dulu, metode pembelajaran tutorial 1:1 ini mustahil dilakukan. Metode ini sangat mahal dan tidak mungkin dicapai secara masal.

“Berapa jumlah guru yang harus disediakan? Antara sistem konvensional dan tutorial ada sistem mastery learning,” ungkap Rustamaji.

Kini, dengan hadirnya AI, metode tutorial 1:1 sangat mungkin dilakukan, yaitu menjadikan AI sebagai tutor.

Sebagai tutor, maka AI tidak langsung menjawab pertanyaan, tetapi bertindak sebagai pembimbing siswa untuk menjawab sendiri, step by step. Selain itu, AI juga haru bisa mengidentifikasi apabila ada kesalahan konsep dari siswa.

“Sebetulnya ChatGPT yang sekarang sudah bisa difungsikan sebagai tutor, tetapi tergantung prompt yang digunakan,” lanjutnya.

Menurut Rustamaji, melihat perkembangan yang semakin pesat, seharusnya AI sudah diajarkan sejak dini. Dengan kurikulum Merdeka, mestinya hadirnya AI membuka peluang untuk masuk ke dalam kurikulum. (*)

share :