Sejarah Konferensi Asia Afrika yang Digelar di Bandung

Artikel

Konferensi Asia Afrika

Muhtar

Konferensi Asia Afrika (KAA) adalah konferensi tingkat tinggi yang diikuti oleh negara-negara Asia dan Afrika pada 18-24 April di Bandung, Jawa Barat.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan. Sebanyak 29 negara turut serta yang rata-rata baru saja memperoleh kemerdekaan.

Konferensi Asia Afrika ini merupakan realisasi gagasan tentang solidaritas negara-negara Asia-Afrika menentang kolonialisme dan imperialisme.

Pertemuan selama delapan hari ini menghasilkan sepuluh poin yang tertuang dalam Dasasila Bandung, berisi tentang pernyataan mengenai dukungan bagi kerukunan dan kerjasama dunia.

Sejarah

Latar belakang diselenggarakannya KAA ini adalah kondisi dunia yang tidak stabil pasca perang dunia II. Ditambah dengan ketegangan karena perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Pada masa itu, negara-negara di Asia dan Afrika juga masih banyak yang mengalami penjajahan dari bangsa Eropa.

Latar belakang ini memicu inisiatif untuk mengadakan pertemuan antarnegara di Asia guna membahas masalah tersebut. Pertemuan informal pertama berlangsung pada 28 April hingga 5 Mei 1954 di Kolombo, Pakistan, yang dikenal dengan nama Konferensi Kolombo.

Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Sir John Kotelawala (Ceylon/Sri Lanka), Jawaharlal Nehru (India), Mohamad Ali (Pakistan), U Nu (Burma/Myanmar), dan Ali Sastroamidjojo (Indonesia).

Dari pertemuan inilah, tercetus ide untuk menghimpun suatu forum di antara negara-negara Asia dan Afrika. Ide ini kemudian dimatangkan pada 28 dan 29 Desember 1954.

Lima perdana menteri tersebut kembali bertemu di Bogor dalam acara yang dikenal sebagai Konferensi Panca Negara. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan mengenai agenda, tujuan, dan negara-negara yang akan diundang pada konferensi mendatang.

Dalam pertemuan tersebut, ditegaskan tujuan dari KAA, yaitu:

  1. Mendorong dan menjalin kerjasama antar negara-negara Asia dan Afrika untuk mengeksplorasi dan memajukan kepentingan bersama untuk membangun dan meningkatkan hubungan persahabatan;
  2. Mempertimbangkan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan budaya dan hubungan antar negara-negara yang mewakili;
  3. Mempertimbangkan masalah-masalah yang menjadi perhatian khusus bangsa Asia-Afrika, seperti masalah-masalah yang mempengaruhi kedaulatan nasional, rasialisme, dan kolinialisme;
  4. Melihat posisi Asia-Afrika dan masyarakatnya di dunia saat ini dan kontribusi yang dapat diberikan untuk memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

Pembukaan KAA

Konferensi Asia Afrika dilaksanakan di Gedung Merdeka, Bandung. Selaku ketua panitia dalam kegiatan ini adalah Ali Sastroamidjojo.

Kegiatan KAA ini dibuka dengan Pidato Presiden RI Sukarno. Dalam pidatonya, Bung Karno menekankan pentingnya kemandirian bagi bangsa-bangsa yang merdeka.

Menurutnya, sebagai bangsa yang berdaulat dan mandiri, negara-negara Asia dan Afrika tidak perlu bergantung pada bangsa lain untuk membahas masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama.

Dalam kesempatan terseut, Bung Karno menegaskan bahwa kolonialisme belum mati selama negara-negara Asia dan Afrika belum sepenuhnya merdeka.

Ia mengingatkan bahwa kolonialisme bukan hanya dalam bentuk klasik, tetapi juga dalam bentuk modern seperti penguasaan ekonomi, intelektual, dan materiil oleh kelompok kecil orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat.

Selain itu, Bung Karno menekankan pentingnya memelihara perdamaian. Ia menyatakan bahwa tanpa perdamaian, kemerdekaan tidak memiliki manfaat.

Dasasila Bandung

Konferensi Asia Afrika menghasilkan beberapa keputusan dalam bentuk Dasasila Bandung. Berikut isinya:

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
  5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
  6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum), ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

 

share :