Self Healing dengan Komunikasi Intrapersonal

Artikel

Nike Ardina

Head of Public Relations of Universitas Insan Cita Indonesia

Akhir tahun 2021, kata self healing popular bahkan viral di media sosial. Di media Instagram, taggar #selfhealing digunakan lebih dari 2 juta postingan. Pengguna Tik Tok dan reels menggunakan tagar #selfhealing dengan beragam kegiatan menyenangkan seperti liburan, melakukan hobi merawat binatang, masak, membaca buku, dan sebagainya.

Self healing berkaitan erat dengan kesehatan mental dan metode penyembuhan oleh diri sendiri. Self healing berarti penyembuhan dari luka batin atau yang berkaitan dengan kesehatan mental seperti depresi, trauma, kecemasan, rasa sakit, marah, benci, sedih, atau emosi lainnya.

Emosi atau luka batin yang terpendam cukup lama berpotensi menjadi self harm atau menyakiti diri sendiri. Seperti dilansir dari situs hellosehat.com, luka batin yang berlangsung lama bisa membuat kita merasa stres kronis, depresi, gangguan kecemasan, dan menggangu kesehatan mental. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, maka berisiko menyebabkan self harm hingga percobaan bunuh diri.

Pandemi covid 19 dan multiple effect dari kejadian ini diyakini meningkatkan jumlah penderita Kesehatan mental di dunia. Di Indonesia sendiri dalam laporan riset dari situs dokter spesialis jiwa mengungkapkan bahwa dari 5.661 responden usia produktif 20-30 tahun, sebagian besar mengalami depresi selama pandemi. Dengan presentase 32 % mengalami masalah psikologis, dan 67,4 % memiliki gejala kecemasan, dan sebanyak 48% dari total jumlah tersebut berpikir untuk bunuh diri.

Mengerikan bukan? na, bagaimana self healing dengan komunikasi intrapersonal?

Pada dasarnya manusia tidak bisa tidak berkomunikasi, bahkan saat ia sendirian. Manusia berkomunikasi dengan dirinya, berperan sebagai komunikator dan komunikan sekaligus. Komunikasi intrapersonal dilakukan pada saat sendirian, atau bahkan saat bersama dengan orang lain.

Komunikasi intrapersonal juga dikenal sebagai proses berpikir. Beragam informasi, stimulasi, menghasilkan sensasi, persepsi, dan menciptakan memori dalam diri individu. Dalam mengambil keputusan misalnya, individu akan melakukan pertimbangan yang didasari pada pengalaman, emosi, empati, logika, dan nilai – nilai yang dianut.

Sebuah studi baru menjelaskan bahwa selama ini orang meyakini proses berpikir (otak) hanya pada logika matematika dan problem solving. Sedangkan perasaan, emosi, feeling berada di rana hati. Keduanya sering bertentangan dan terpisah. Padahal antara otak dan struktur tubuh manusia (termasuk hati) di dalamnya adalah satu kesatuan dan saling mempengaruhi. Apa yang dipikirkan dan dipersepsikan otak, akan berimplikasi langsung terhadap respon tubuh.

Pada saat individu mengalami depresi berat dan merencanakan untuk bunuh diri, secara alamia terjadi komunikasi intrapersonal. Tahapan mulai dari sensasi yang dipengaruhi panca indera, persepsi, memori, hingga proses berpikir dilakukan untuk tetap melanjutkan atau berhenti. Begitupun dalam self healing seperti tujuan utamanya adalah menyembuhkan diri sendiri.

Penyembuhan berarti positif, yakni upaya yang dilakukan dalam mengobati luka batin. Dalam jurnal Komunikasi dan Bahasa Nivedana, mengungkapkan bahwa metode komunikasi intrapersonal sebagai self healing dapat  dilakukan  dengan  cara menanamkan  pikiran  positif  kepada  diri kita (Yogi, 2021).

Menanamkan pikiran positif sesuai dengan tahapan komunikasi intrapersonal bisa dilakukan dangan, pertama menyaring informasi.

Dalam tahapan komunikasi intrapersonal, informasi adalah kunci atau gerbang awal untuk proses berikutnya. Pada tahapan sensasi dan persepsi diawali dengan informasi atau stimulus yang kemudian diproses. Kita harus benar benar memilah informasi dan stimulus yang menjadi  triger emosi.

Memilah bukan berarti menghindari. Memilah lebih kepada pemusatan pikiran kita pada hal – hal yang lebih berdampak positif. Sedangkan menghindari lebih kepada penolakan dan ini membutuhkan upaya yang lebih keras.

Kedua, memiliki keyakinan. Setiap orang memiliki keyakinan berbeda yang dipilih sebagai kebenaran. Keyakinan yang kuat akan membuat individu memiliki kekuatan melalui banyak hal. Dalam proses self healing, memilki keyakinan yang kuat bahwa pasti sembuh juga sangat penting.

Justinus dalam Self Healing: Bagaimana Diri Sendiri Menyembuhkan Luka menyebutkan bahwa keyakinan (belief) mengenai dirilah yang justru membuat seseorang menjadi berhasil atau tidak. Darimana keyakinan mengenai diri itu terbentuk? Dari semua pengalaman yang kita alami yang akhirnya diberi makna dan disederhanakan menjadi sebuah definisi diri.

Ketiga, Penerimaan. Komunikasi intrapersonal seringkali diabaikan dan dianggap tidak penting. Bahkan banyak orang berpandangan bahwa komunikasi itu hanya dengan pihak luar. Padahal Komunikasi intrapersonal terjadi hampir sepanjang waktu dan mempengaruhi komunikasi dan tindakan yang kita ambil kepada orang lain.

Louise Lynn Hay, seorang penulis motivasi Amerika dan pendiri Hay House dalam bukunya  You Can Heal Your Life mengatakan “Kamu telah mengkritik diri sendiri selama bertahun-tahun, dan itu tidak berhasil. Cobalah untuk menyetujui diri sendiri dan lihat apa yang terjadi” (1984).

Penerimaan terhadap diri sendiri dalam proses self healing sangat penting. Menerima, mencintai, menghargai setiap pengalaman baik buruk, nilai yang kita anut, termasuk luka yang kita alami.

Na, bagaimana self healing kalian?

Self healing bukan berarti jalan – jalan atau menghabiskan uang saja ya. Self healing terpenting adalah berkomunikasi dengan diri sendiri agar sembuh dari luka batin.

 

share :