Suherdi: Media Konvensional Alami Masa Penuh Tekanan

Berita

Muhtar

Seiring dengan perkembangan teknologi, media sosial dan media online massif bermunculan. Hal itu secara tidak langsung menghambat perkembangan media konvensional.  General Manager Bengkulu Express Suherdi Marabilie mengatakan media konvensional di era digital saat ini mengalami masa yang penuh tekanan.

Hal tersebut disampaikan Suherdi saat menjadi narasumber dalam acara Public Lecture yang diselenggarakan oleh Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) dengan tema “Dilema Media Kovensional di Era Digital: Bertahan di Posisi atau Adaptasi?” pada Sabtu (11/06/2022).

“Memang yang kita alami di lapangan, media konvensional ini mengalami masa-masa yang tertekan kalau boleh dibilang seperti itu. Kalau mungkin di bahasa media itu tidak seksi lagi, karena hadirnya media-media digital atau media-media sosial. Dan kalau kita lihat memang ada beberapa media-media, terutama cetak, yang sudah menyatakan menutup usahanya,” katanya.

Kondisi seperti ini, menurut Suherdi, tidak perlu diratapi. Media konvensional harus menghadapinya dengan mengubah mindset pemberitaan. Salah satunya adalah mengubah mindset bad news is good news menjadi good news.

“Good news is good news, bad news is bad news. Jadi berita baik itu juga berita yang baik untuk diangkat. Ini contoh yang kami lakukan di Bengkulu,” jelasnya.

Strategi yang kedua, lanjut Suherdi, adalah dengan tampilan yang menarik dan isi berita yang mendalam. Hal tersebut diharapkan akan menjadi daya tarik bagi pembaca dan iklan.

Yang ketiga, kata Suherdi, adalah dengan menjaga kredibilitas dan kepercayaan pembaca. Ia mengungkapkan kelemahan media konvensional dibandingkan media online adalah soal kecepatan. Tetapi soal akurasi, media konvensional lebih unggul karena mempunya waktu lebih untuk verifikasi.

“Salah satu keunggulan koran itu punya waktu lebih banyak memverifikasi. Jadi berita yang ditampilkan diterbitan besoknya itu, validasinya lebih tinggi dibandingkan online,” imbuhnya.

Dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi, jarang sekali ditemukan hoaks atau berita bohong di media konvensional. Hoaks itu lebih banyak terjadi di media-media online ataupun media-media sosial.

Suherdi melanjutkan strategi yang keempat adalah memperbanyak event. Seperti jalan sehat, senam, lomba masak, lomba menulis, dan lain-lain.

Strategi yang kelima, lanjut Suherdi adalah berkolaborasi dengan media online dan media sosial.

“Strategi yang terakhir itu memang, mau tidak mau, kita harus berkolaborasi.  Jadi sekarang tidak boleh lagi mendikotomikan ini cetak ini online, tidak bisa lagi. (*)

share :