UICI Gelar FGD Kurikulum Digital Neuropsikologi, Hadirkan Pakar Neurosains dan Psikologi

Berita

Muhtar

Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai kurikulum digital neuropsikologi pada Rabu (15/02/2023).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Rektorat UICI itu dihadiri oleh Rektor UICI Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin, Wakil Rektor Bidang Akademik Dr.Eng Jaswar Koto, Kaprodi Psikologi Dyah Indah Noviyani, dan pakar neurosains Prof. Taruna Ikrar dan Dr. dr. Taufiq Pasiak.

Selain itu, hadir pula pakar psikologi Dr. Rahmat Ismail, Dra. Yati Utoyo Lubis, PhD, Dr. Ayu Nindyati, Prof. Dr. Suryana Sumantri, dan para dosen Prodi Psikologi.

Mengantarkan diskusi, Prof. Laode menyampaikan laju digitalisasi ini berdampak pada tiga hal dalam diri manusia, yaitu perubahan perilaku, cara berkomunikasi dan berpikir.

“Selama ini, kita sering kali “dijajah” oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, dan UICI ingin mengambil peran dalam menciptakan keilmuan di Indonesia tetapi dengan berbasis keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan, scienctific proven,” kata Prof. Laode.

Ia mengungkapkan masyarakat society 5.0 yang memiliki pusat perhatian pada manusia dan dapat menyeimbangkan antara perkembangan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial dengan mengintegrasikan antara dunia maya dengan dunia nyata

“Berbasis smart society 5.0, maka UICI ingin menyelesaikan berbagai permasalahan sosial dengan memanfaatkan teknologi yang tetap mengutamakan humanistik,” jelas Prof. Laode

“Prodi Digital Neuropsikologi adalah prodi baru yang mungkin menjadi leader di Indoneisia yang menyatukan kekuatan dari berbagai multi disipliner yaitu psychology, neuroscience dan artificial intelligence (AI) menjadi digital neuropsychology sebagai core-nya,” tambahnya.

Sementara itu Dr.Eng Jaswar menyampaikan bahwa pada tahun 2030, AI akan menguasai berbagai keilmuan, sebagai contohnya di dunia kedokteran maupun hukum.

“Namun, untuk mencapai ke sana, pada fase awal harus melalui literasi digital,” tuturnya.

Kemudian Prof. Taruna Ikrar memaparkan tentang bagaimana aspek biologi berdampak pada neurosains. Ini membuktikan sebuah fakta apapun ilmunya tentang cara berpikir atau berperilaku.

“Semua yang kita lakukan atau role-role atau apapun itu, pusatnya di otak. Ratusan milyar sel saraf berupa sel perangsang maupun sel penghambat memunculkan gelombang atau ada koneksi antar saraf atau sinapsis,” jelasnya

Penjelasan mengenai bidang ilmu neuorasains juga disampaikan oleh Dr. dr. Taufiq Pasiak tentang neuroplastisitas dimana otak manusia sebagai organ yang selalu dapat beradaptasi.

“Sistem sensori kita begitu hebatnya, dan selalu melakukan kompensasi ketika salah satu organ tidak berfungsi, misal orang buta, kompensasi di saraf bagian pendengaran lebih tajam,” ungkapnya

“Memperkaya lingkungan akan mengembangkan kemampan kognitif, emosi dan perilaku. Ketika otak melakukan repetisi, akan membuat adanya perubahan dalam plastisitas otak, akan menghasilkan gelombang otak yang merupakan tujuan dari neurofeedback,” tambahnya.

FGD terkait kurikulum Psikologi UICI bersama para pakar Psikologi yang hadir juga membuka wawasan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan ke depan dalam bidang psikologi, terkhusus digital neuropsikologi.

Dari hasil diskusi itu, perlu dipertimbangkan bidang bidang cyberpsychology, kehidupan sosial dan moral maupun nilai-nilai yang perlu ditanam dalam diri manusia walaupun mereka menggunakan produk teknologi AI di bidang neuropsikologi. (*)

share :