UICI Tandatangani Nota Kesepahaman dengan Universitas Al Azhar dan Universitas Binawan

Berita

Muhtar

Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) dan Universitas Binawan pada Jumat (08/07/2022) secara virtual.

MoU yang ditandatangani tersebut dalam bidang tridharma perguruan tinggi, pengembangan merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) serta pengembangan pendidikan tinggi berbasis digital. MoU tersebut ditandatangani oleh Rektor UICI Prof. Laode Masihu Kamaluddin, Rektor UAI Prof. Asep Saefudin, dan Rektor Universitas Binawan Prof. Ilah Sailah.

Prof. Laode Masihu Kamaluddin dalam sambutannya menyampaikan bahwa UICI adalah universitas baru, berbeda dengan UAI dan Universitas Binawan yang mempunyai sejarah panjang, pengalaman, dan akumulasi pengetahuan pengetahuan yang banyak.

“Kedua universitas ini di dalam terminologi UICI tergolong offline university atau conventional university,” kata Prof. Laode.

Saat ini, lanjut Prof. Laode, ada tiga jenis universitas, yaitu universitas offline, universitas dengan model pendidikan jarak jauh (PJJ), dan universitas dengan model digital.

UICI adalah universitas digital. Sejajar dengan Universitas Harvard, MIT, Universitas Tokyo, Universitas Colorado, dan Universitas Oxford.

Dalam proses pendidikannya, UICI mengembangkan platform Digital Simulator Teaching Learning System (DSTLS) yang digerakkan oleh artificial intelligence (AI).

“Sehingga tugas dosen hanya menyiapkan bahan ajar dengan baik dan mahasiswa melalui simulator ini dapat berinteraksi kapan saja, di mana saja dan dengan device apa saja, yang mana mereka bisa mempercepat atau memperlambat perkuliahan,” ungkap Prof. Laode.

Prof. Laode mengatakan dalam kerja sama ini,  UICI siap membantu di bidang artificial intelligence digital simulator teaching learning system (AI DSTLS) dalam proses pembelajaran.

“Di samping itu, kita juga mengembangkan tv digital, radio digital, dan internet pedesaan, dengan tujuan agar mahasiswa dari seluruh Indonesia dapat ikut kuliah,” lanjut Prof. Laode.

UICI, lanjut Prof. Laode, hadir untuk memenuhi kebutuhan 9 juta talenta digital dan 2 juta pemimpin digital di Indonesia. Hal tersebut sebagai syarat agar Indonesia menjadi negara maju.

“UICI tidak bisa sendirian. Oleh karena itu kehadiran tiga universitas ini sangat relevan. Kita mulai dulu yang sepaham dengan kita, yaitu Universitas Al Azhar dan Universitas Binawan,” jelas Prof. Laode.

Sementara itu Prof. Asep menyampaikan dengan adanya MoU ini, tiga universitas ini bisa saling melengkapi. Misalnya dari Universitas Binawan yang terkenal dalam bidang kesehatan dan UICI di bidang pendidikan digital.

“Dan UAI sendiri juga mempunyai banyak kekuatan. Kami mempunyai banyak kontribusi, terutama saat covid. Kami juga memiliki program S2 bagi ibu Rektor Universitas Binawan yang mungkin ada tendik yang belum S2 mau mengambil S2 di UAI untuk Ilmu Komunikasi dan Ilmu Hukum, dengan senang hati melalui biaya mitra, biaya kerja sama, juga dengan tendiknya di UICI, silahkan,” kata Prof. Asep.

Sedangkan Prof. Ilah Sailah mengaku terkesan dengan MoU yang ditandatangani oleh tiga universitas ini. Menurutnya, ini adalah MoU paling cepat, mulai dari perencanaan hingga penandatanganan.

Ia berharap dengan MoU tiga universitas ini bisa saling menguatkan satu sama lain. Dengan UICI, Universitas Binawan bisa bekerja sama terkait dengan pendidikan digital.

“Dengan penandatanganan ini, kami bisa memberikan pembelajaran bagi dosen-dosen kami bagaimana mengajar secara digital dan bagaimana mungkin saja nanti diisi dengan sharing mata kuliah. Mata kuliah digital yang itu tidak banyak praktikum tetapi lebih banyak pengetahuan,” ungkap Prof. Ilah Sailah.

“Kalau dengan UAI, mungkin nanti gizi, farmasi, dan psikologi, itu yang akan kami dahulukan untuk bekerja sama,” imbuhnya. (*)

share :